Bukan Virus Corona, 11 Orang Meninggal Per Jam karena Penyakit Ini

Ilustrasi batuk/TBC/virus corona/COVID-19.
Sumber :
  • Freepik/drobotdean

VoxPop – Virus corona atau COVID-19 sedang menjadi pembicaraan di seluruh dunia saat ini. Jumlah korban yang terus meningkat setiap harinya, ditambah penularannya yang sangat mudah, membuat semua orang khawatir dan kelimpungan menghadapi virus yang berasal dari China itu. Seolah di dunia ini hanya ada satu penyakit, yaitu COVID-19. 

img_title Hakim Tolak Dalih COVID-19 Nadiem di Perkara Chromebook, Singgung Arahan 'Mas Menteri'

Padahal, ada penyakit lain yang tak kalah berbahaya karena telah menyebabkan kematian hingga 11 orang setiap jam. Menurut Ketua Tim Penanganan COVID-19 & Juru Bicara RS Persahabatan untuk COVID-19, dr. Erlina Burhan,Sp.P(K), penyakit yang dimaksud adalah tuberkulosis (TBC).

Melalui saluran podcast miliknya, Deddy Corbuzier mempertanyakan jumlah kematian yang sedemikan banyak. Apakah karena penyakit tersebut tidak tertanggulangi? Menurut Erlina, banyak orang yang tidak terlalu memperdulikan penyakit ini. 

img_title Dua Terdakwa Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Westafel saat Covid-19 Divonis Bebas

"Saya mengerti mengapa orang tidak terlalu peduli, karena kalau tuberkulosis matinya lama. Lalau ini (virus corona) matinya cepat, orang kaget," ujarnya di YouTube Deddy Corbuzier, dikutip VoxPop, Jumat, 17 April 2020.

Jika satu 1 ada 11 orang meninggal, maka dalam setahun ada 93 ribu kematian akibat tuberkulosis. Lalu, apakah tidak ada obat untuk penyakit ini?

img_title Pertama dalam Sejarah, Mantan Perdana Menteri Spanyol Jadi Tersangka Korupsi

"Ada, obatnya ada, efektif dan kalau di Puskesmas atau rumah sakit pemerintah itu gratis, lho. Cuma makan obatnya 6 bulan, makan obatnya bosan," lanjut dia. 

Selain abai, kebanyakan orang yang menderita TBC sudah merasa sembuh. Sehingga obat yang diresepkan yang seharusnya dikonsumsi selama 6 bulan, pada dua bulan pertama, saat pasien merasa dirinya sudah sembuh, dia memutuskan untuk menghentikan pengobatan. 

"Kebanyakan orang merasa sembuh, karena emang makan obat 2 bulan kuman-kuman yang tadinya jumlahnya banyak, drastis turun. Sehingga pasien tidak merasakan sakit, malah merasa segar, mau makan lagi, berat badan naik, enggak ada masalah lah,” ucap Erlina.

“Padahal kan sebetulnya kumannya masih ada sebagian. Kalau obatnya berhenti, si kuman berkembang biak lagi. Bahkan sebagian bermutasi menjadi kuman yang resisten," tutur Erlina. 

Bendera China.

Pertama Kali Sejak Pandemo Covid-19, China Gagal Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

China gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi tahunannya, yang menggarisbawahi tantangan struktural yang semakin besar yang dihadapi ekonomi terbesar kedua di dunia.

img_title
VoxPop.co.id
26 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut