Mengenal 3 Vaksin COVID-19 yang Akan Hadir di Indonesia pada November
- U-Report
Sinopharm
Agustus lalu, perusahaan Sinopharm milik China menggunakan metode inactivated vaccsine. Perusahaan ini melalui unit CNBG-nya, diketahui memiliki dua kandidat vaksin yang tidak aktif dari lembaga penelitian biologi di Beijing dan Wuhan. Mereka memasuki pengujian fase 1/2 pada April dan menyampaikan hasil awal pada Juni.
Menurut data sementara fase 2 yang baru-baru ini diterbitkan di JAMA, suntikan Wuhan, dengan dosis sedang, memicu antibodi penetral pada titer rata-rata geometris 121 ketika dua dosis diberikan dengan selang waktu 14 hari, dan 247 saat diberikan dengan selang waktu 21 hari.
“Titer antibodi mulai meningkat setelah injeksi kedua dan selanjutnya meningkat setelah injeksi ketiga, menunjukkan perlunya injeksi booster,” tulis para peneliti dalam penelitian tersebut.
Dari rilis yang diterima VoxPop dari Kementerian Kemaritimam dan Investasi, diketahui sudah masuk pada tahap akhir uji klinis tahap ke-3 dan dalam proses mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) di sejumlah negara. melakukan uji klinis tahap ke-3 di Tiongkok, Uni Emirat Arab (UEA), Peru, Moroko dan Argentina.
Pemerintah UAE ikut memberikan emergency use authorization kepada G42/Sinopharm. Data untuk vaksin G42/Sinopharm akan diambil dari data uji klinis di UAE karena diproduksi di sana.
Kehalalan vaksin Sinovac dan Cansino akan dijamin melalui partisipasi MUI dalam proses pengujian data, begitu juga dengan kehalalan vaksin G42/Sinopharm.
G42/Sinopharm menyanggupi 15 juta dosis vaksin (dual dose) tahun ini, yang 5 juta dosis akan mulai datang pada bulan November 2020. Untuk tahun 2021, Sinopharm mengusahakan 50 juta (dual dose). Untuk harganya sendiri akan dijual kurang dari 1.000 yuan.
“Diperkirakan biayanya beberapa ratus yuan untuk satu suntikan, dan itu akan menjadi kurang dari 1.000 yuan (USD145 setara dengan Rp2,1 juta) untuk dua dosis," kata Ketua Sinopharm Liu Jingzhen mengatakan kepada media lokal Guangming Daily (China).
CanSino
Perusahaan ini mengembangkan vaksin virus corona yang diberinama Ad5-nCOV. Vaksin ini pertama kali diajukan untuk persetujuan pada Maret menggunakan versi strain virus flu biasa untuk mengangkut materi genetik ke dalam tubuh manusia dan melatihnya untuk mencegah infeksi lebih lanjut dan meningkatkan antibodi di tubuh inang.
