3 Fakta Parosmia, Gejala Baru COVID-19 Terkait Fungsi Penciuman
- Freepik
VoxPop – Gejala COVID-19 terus menerus bertambah dan berubah seiring dengan meningkatnya kasus di dunia. Salah satu yang disorot lantaran cukup banyak diidap oleh pasien COVID-19 yakni parosmia. Apa itu parosmia?
Dilansir dari Sky News, Selasa, 5 Januari 2021, mutasi pada virus corona yang kerap terjadi mungkin menjadi pemicu berbagai perubahan gejala di tubuh manusia. Termasuk fungsi penciuman, yang gejala awalnya adalah anosmia (tidak bisa mencium bau), kini menjadi parosmia.
Efek parosmia sendiri membuat perubahan pada fungsi penciuman, yang salah dalam menangkap aroma yang dihirup. Seperti apa gejalanya? Berbahayakah? Bagaimana fakta-fakta yang ditemukan? Berikut rangkumannya.
Apa itu parosmia?
Parosmia merupakan distorsi pada indera penciuman yang membuat fungsi hidung salah dalam menangkap aroma. Dalam kasus yang paling parah, parosmia dapat menyebabkan Anda merasa sakit secara fisik saat otak Anda mendeteksi bau yang kuat dan tidak menyenangkan.
Ahli bedah telinga, hidung dan tenggorokan (THT) Profesor Nirmal Kumar menyebut gejala tersebut "sangat aneh dan sangat unik".
Prof Kumar mengatakan kepada Sky News bahwa pasien mengalami halusinasi penciuman, yang berarti "indra penciuman terdistorsi, dan sayangnya, sebagian besar tidak menyenangkan". Ia menambahkan bahwa hal itu "sangat mengganggu pasien dan kualitas hidup mereka sangat terpengaruh".
Bagaimana efek yang ditimbulkan?
Jika Anda menderita parosmia, gejala utama Anda adalah merasakan bau busuk yang terus-menerus, terutama saat ada makanan. Anda mungkin juga mengalami kesulitan mengenali atau memperhatikan beberapa bau di lingkungan Anda, akibat kerusakan neuron penciuman Anda.
Aroma yang tadinya Anda anggap menyenangkan sekarang mungkin menjadi sangat kuat dan tak tertahankan. Jika Anda mencoba makan makanan yang baunya tidak enak, Anda mungkin merasa mual atau mual saat makan.
Berdasarkan laporan Sky News, salah satu pasien di London menyebut, awalnya ia kehilangan fungsi penciuman atau anosmia selama 2 pekan. Lalu, berubah menjadi parosmia dengan mencium aroma kuat dan tak menyenangkan seperti aroma terbakar, bau amis ikan, hingga sulfur.
Bahkan, pasien lainnya merasa bahwa aroma kopi yang biasanya menyenangkan kini berubah menjadi bau bensin yang memuakan.
