Wanita Lebih Berisiko Kena Efek Samping Usai Vaksin COVID-19, Kenapa?
- VoxPop/M Ali Wafa
VoxPop – Penelitian terbaru mengungkap, wanita lebih rentan mendapatkan efek samping vaksin COVID-19 dibanding pria. Meski wanita cenderung lebih rendah untuk terkena COVID-19, namun kerentanan terhadap vaksin menunjukkan hal sebaliknya.
Perbedaan yang diamati bukanlah hal yang baru terjadi satu kali, tetapi sudah diamati secara global.
Faktanya, sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), menganalisis data dari 13,7 juta suntikan vaksin COVID-19 pertama yang diberikan pada orang-orang dari berbagai usia.
Dilansir dari Times of India, Jumat, 12 Maret 2021, efek samping yang merugikan atau serius dari vaksin jarang ditemukan. Namun, di antara yang dilaporkan, sebagian besar reaksi ditemukan pada wanita.
Berdasarkan studi yang dilakukan CDC, diamati bahwa 19 wanita yang mendapatkan suntikan vaksin Moderna mencatat kejadian buruk. Sedangkan mereka yang mengalami reaksi anafilaksis, sekitar 44 persen dari mereka yang diberi suntikan Pfizer.
Hasil serupa, meskipun tidak dianalisis atau ditinjau, telah diamati pada orang-orang yang mendapatkan suntikan vaksin Oxford-Astrazeneca atau Covaxin.
Meskipun efek sampingnya tidak terlalu mengkhawatirkan, para ahli percaya sistem kekebalan tubuh dapat melakukan tugasnya dengan sempurna.
Menurut para ahli, wanita lebih cenderung melaporkan efek samping atau mencari bantuan medis dibanding pria. Lalu, apakah sistem kekebalan wanita bekerja secara berbeda?
Faktor biologi juga memainkan peran penting. Sama seperti wanita yang cenderung memiliki ambang batas yang lebih kuat terhadap serangan dan tingkat keparahan COVID-19, sistem kekebalan wanita cenderung lebih kuat dan berperilaku berbeda dibandingkan pria.
Beberapa penelitian juga melihat, wanita cenderung menghasilkan lebih banyak antibodi untuk melawan infeksi dibanding pria.
Perbedaan genetik dan hormon reproduksi juga dapat memengaruhi cara tubuh bereaksi terhadap vaksin, sehingga menyebabkan wanita mengalami lebih banyak efek samping dan memiliki antibodi daripada pria.
Meskipun belum ditetapkan secara klinis, telah diamati bahwa wanita menyerap atau memanfaatkan ukuran obat. Atau dalam kasus ini, dosis vaksinnya berbeda dari pria.
Jika diberi dosis yang lebih tinggi dari biasanya, wanita mungkin akan menunjukkan reaksi yang lebih merugikan. Begitu pula dengan penggunaan vaksin sebelumnya, termasuk vaksin influenza, vaksin campak dan gondongan.
