Mager & Gemar Begadang, Awas Diintai WFH Disease

Ilustrasi WFH
Sumber :
  • U-Report

VoxPop – Pandemi yang terjadi selama lebih kurang 2 tahun belakang membuat kita mau tidak mau harus beradaptasi dengan keadaan. Alih-alih tetap menjalani hidup sehat, sebagian masyarakat malah memiliki rutinitas yang kurang baik dan berisiko mengidap Work From Home (WFH) disease (penyakit di rumah).

img_title 6 Lowongan Kerja Remote Terbaru, Gaji Tembus Rp8 Juta per Bulan dan Bisa WFH

Dijelaskan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Vito A. Damay, Sp.JP(K), M.Kes., AIFO-K, FIHA., FICA., FAsCC., masyarakat saat ini masih dalam tren WFH yang tak berkesudahan. Saat WFH, cenderung membuat waktu kerja tak beraturan.

"Saya bilang ini WFH disease, orang di rumah sekarang kerja bisa online waktu kerja tak menentu," ujarnya dalam acara virtual bersama Yayasan Jantung Indonesia (YJI), baru-baru ini.

img_title Bukan Spek Tinggi, Laptop untuk WFH Harus Punya Ini

Bukan hanya waktu kerja, tapi juga kebiasaan mengonsumsi kudapan ringan yang malah berisiko pada obesitas. Selain itu, waktu makan pun menjadi kurang teratur akibat rapat virtual berkepanjangan yang memicu gaya hidup sedentary alias males gerak (mager).

"Dia jadi lupa olahraga, lupa gerak. Selain itu jam tidur juga bisa terganggu karena ada rapat sampai malam atau malah nonton sampai malam di rumah," imbuhnya.

img_title Qodari: Kebijakan WFH ASN Bikin Hemat Anggaran Rp1,94 Triliun

Gaya hidup yang mageran hingga akhirnya gemar begadang pun tentu memicu irama tubuh yang mulai kacau. Hal ini berdampak pada risiko stres akibat produksi hormon kortisol di tubuh.

"Tapi jam malam ini malah bangun, akhirnya hormon kortisol yang biasa aktif siang harus keluar lagi. Anda jadinya tidak tidur, pagi hari badan tidak segar karena malam hari tidak istirahat sebagai mana mestinya," bebernya.

Tak heran, kebiasaan mager dan begadang dari WFH ini bisa berdampak pada penyakit-penyakit seperti diabetes, hipertensi, obesitas yang berakhir pada masalah di jantung. Oleh karena itu, seluruh masyarakat perlu mengambil peran dalam mencegah tingginya angka jumlah penyintas dan kematian akibat penyakit jantung. 

"Tingkatkan daya tahan tubuh sebaik mungkin, makan makanan yang bergizi, hindari gula, garam serta lemak berlebihan, mengkonsumsi suplemen atau multivitamin bila diperlukan, serta tetap memeriksakan kesehatan Anda secara berkala dengan cara konsultasi dengan dokter Anda melalui fasilitas telemedika,” ungkap dr. Vito.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut