Ahli: Vitamin D Sangat Penting Dalam Mencegah COVID-19

Ilustrasi vitamin/obat.
Sumber :
  • Freepik/freepik

VoxPop – Vitamin D telah direkomendasikan oleh banyak ahli sebagai perawatan pencegahan untuk infeksi COVID-19. Vitamin D diproduksi di dalam tubuh saat kulit terkena sinar matahari. Tinggal di dalam ruangan menghambat tingkat vitamin D dalam tubuh. Selama lonjakan COVID-19, ketika semua orang disarankan untuk tinggal di dalam rumah, sangat penting untuk memeriksa kadar vitamin D dalam tubuh.

img_title Pertama Kali Sejak Pandemo Covid-19, China Gagal Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

Meskipun tidak ada bukti langsung tentang efek vitamin D dalam pengobatan COVID-19, karena perannya dalam mengendalikan peradangan, vitamin D dianggap sebagai pengobatan pencegahan oleh para ahli. Infeksi COVID-19 menyebabkan miokarditis, trombosis mikrovaskular, dan/atau badai sitokin yang semuanya melibatkan peradangan.

Peran utama vitamin D adalah untuk meningkatkan kekebalan dan meredakan peradangan dan ini mungkin menjadi alasan kita disarankan untuk meningkatkan asupan vitamin D untuk mencegah COVID-19. Rendahnya tingkat vitamin D sendiri telah dikaitkan dengan peningkatan sitokin inflamasi.

img_title Hakim Tolak Dalih COVID-19 Nadiem di Perkara Chromebook, Singgung Arahan 'Mas Menteri'

Selama pandemi COVID-19, banyak orang yang lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah. Meskipun di satu sisi merupakan berkah karena penyebaran virus corona di masyarakat dapat dikendalikan sampai batas tertentu, namun di sisi lain dapat memicu penurunan kadar vitamin D dalam tubuh.

Ilustrasi vitamin/obat.

Photo :
  • Freepik/freepik
img_title Dua Terdakwa Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Westafel saat Covid-19 Divonis Bebas

"Pendapat kami adalah jika vitamin D memang mengurangi keparahan COVID-19 terkait dengan pneumonia/ARDS, peradangan, sitokin inflamasi dan trombosis, maka suplemen akan menawarkan pilihan yang relatif mudah untuk mengurangi dampak pandemi," kata sekelompok peneliti di University of Minnesota, Minneapolis, Amerika Serikat, dikutip dari laman Times of India, Minggu, 16 Januari 2022.

Menurut para peneliti, kadar vitamin D yang rendah telah dikaitkan dengan peningkatan sitokin inflamasi dan peningkatan risiko pneumonia dan infeksi saluran pernapasan atas, yang disebabkan oleh virus secara signifikan.

“Kekurangan vitamin D dikaitkan dengan peningkatan episode trombotik, yang sering diamati pada COVID-19. Kekurangan D telah ditemukan lebih sering terjadi pada pasien dengan obesitas dan diabetes. Kondisi ini dilaporkan membawa kematian yang lebih tinggi pada COVID-19, " tambah para peneliti.

Dalam studi yang dilakukan Harvard School of Public Health tentang flu musiman dan pandemi yang disebabkan oleh virus H1N1 pada tahun 2009, diamati bahwa suplementasi vitamin D menurunkan kemungkinan mengembangkan infeksi saluran pernapasan akut sebesar 12 hingga 75 persen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut