WHO Umumkan 3 Sub Varian Omicron, Kenali Masing-masing Gejalanya
- Pixabay/mattthewafflecat
Dikatakan sebagai penyebar tercepat di antara semua sub varian Omicron, infeksi COVID-19 yang diinduksi BA.2 menyebabkan gejala seperti pilek, sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, batuk terus-menerus, dan kelelahan.
Tidak ada gejala lain yang dilaporkan untuk infeksi subvarian Omicron ini, selain temuan dari beberapa penelitian yang mengatakan bahwa sub varian Omicron BA.2 dapat menyebabkan kerusakan parah pada paru-paru.
Kemampuan lolos kekebalan dari sub varian ini sering dikaitkan dengan tingkat keparahan penyakit. Namun, seperti yang dikatakan oleh WHO, sub varian BA.2 mirip dengan sub garis keturunan Omicron lainnya dalam hal tingkat keparahan.
Kesimpulan
COVID-19
Terjadinya gejala COVID-19 bervariasi setiap orang. Derajat keparahan infeksi COVID-19 bergantung pada bagaimana mekanisme kekebalan tubuh bereaksi terhadap serangan patogen tersebut. Pada banyak pasien, infeksi meninggalkan bekas bahkan berbulan-bulan setelah pemulihan atau disebut sebagai long COVID-19.
"Omicron telah menggantikan varian Delta di tingkat global. Banyak negara telah melewati puncaknya tetapi tidak semua negara telah melewati puncaknya. Ini lebih ringan dari Delta tetapi bukan virus ringan," ujar Maria Van Kerkhove, yang memimpin sisi teknis tim respons COVID-19 WHO.
Mengenai kesamaan mendasar antara BA.1 dan BA.2, Dr Anurag Agrawal, Ketua TAG, evolusi virus SARS-CoV-2 mengatakan bahwa BA.2 sudah menjadi variant of concern (VOC) atau varian yang menjadi perhatian.
"Kesamaan transmisibilitas tinggi secara fundamental, tingkat keparahan yang lebih rendah, kemampuan untuk menghindari vaksin kira-kira serupa berdasarkan data yang tersedia. Kami memperhitungkan semua data dan telah menyimpulkan bahwa untuk saat ini, label Omicron adalah label yang cukup untuk sub varian BA.1 dan BA.2," papar Dr Anurag Agrawal.
