Selain Covid-19, Ini 5 Virus Paling Berbahaya di Dunia
- Chinatopix via AP
Pada Desember 2020, vaksin Revebo telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS. Vaksin ini membantu mempertahankan diri dari virus Ebola Zaire dan persediaan secara menyeluruh tersedia mulai Januari 2021.
3. Virus Rabies
vaksin rabies
- Wima Saraswati/VoxPopnews
Meskipun vaksin rabies untuk hewan peliharaan yang sudah diperkenalkan pada 1920-an, membantu penyakit ini sangat langka di negara maju, akan tetapi kondisi ini tetap menjadi masalah serius di India dan sebagian negara Afrika.
Infeksi dari virus ini berkembang setelah gigitan atau cakaran dari hewan yang terinfeksi. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada otak dan saraf. Begitu gejala mulai terlihat, kematian hampir selalu mengikuti, menurut National Health Service (NHS).
"Ini menghancurkan otak, itu penyakit yang sangat buruk," kata Muhlberger. "Kami memiliki vaksin rabies, dan kami memiliki antibodi yang bekerja melawan rabies, jadi jika seseorang digigit hewan rabies, kami dapat mengobati orang ini," Tambahnya. Akan tetapi jika anda tidak mendapatkan perawatan yang tepat, makan bisa dipastikan 100 persen anda akan mengalami kematian.
4. Virus HIV
Ilustrasi HIV
- Times of India
Vitus mematikan lainnya adalah HIV, seperti diungkapkan langsung oleh Dr. Amesh Adalja "Virus ini masih menjadi pembunuh terbesar". Diperkirakan 32 juta orang telah meninggal karena HIV sejak penyakit ini pertama kali dikenali pada awal 1980-an. "Penyakit menular yang paling banyak memakan korban manusia saat ini adalah HIV," kata Adalja.
Obat antivirus yang kuat telah memungkinkan orang untuk hidup selama bertahun-tahun dengan HIV. Tetapi penyakit ini terus menghancurkan banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Hampir 1 dari 25 orang dewasa di wilayah Afrika terkena penyakit HIV, yang berarti ada lebih dari dua pertiga orang yang hidup dengan kondisi penyakit HIV. Menurut WHO, pada tahun 2020, ada sekitar 680.000 yang meninggal terkait HIV di seluruh dunia.
5. Virus Marburg
Marburg
- U-Report
Menurut WHO, virus Marburg pertama kali diidentifikasi oleh para ilmuwan pada tahun 1967, ketika wabah kecil terjadi di antara pekerja laboratorium di Jerman yang terkena monyet terinfeksi yang diimpor dari Uganda.
Gejala virus Marburg mirip dengan Ebola karena kedua virus dapat menyebabkan demam berdarah, artinya orang yang terinfeksi mengalami demam tinggi, dan pendarahan di seluruh tubuh yang dapat menyebabkan syok, kegagalan organ, dan kematian, menurut Mayo Clinic.
