Ki Joko Bodo Alami Hipertensi Sebelum Wafat, Ini Tips Cegah Darah Tinggi Kambuh
- Times of India
"Hipertensi merupakan faktor risiko utama kejadian stroke," ujar Dokter Spesialis Saraf RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, dalam webinar.
Tekanan darah tinggi.
- U-Report
Stroke yang terjadi bisa dimulai dari skala ringan yakni Transient Ischaemic Attack / TIA. Hingga mencapai stroke berat yang bisa menyebabkan kecacatan menetap dan mengancam jiwa, terutama jika Hipertensi tidak ditangani.
Lebih dalam, dokter Eka mengatakan bahwa setiap kenaikan tekanan darah sistolik 2 mmHg akan meningkatkan risiko Stroke 10 persen pada orang dewasa. Hipertensi sendiri ditemukan pada 64-70% kasus stroke.
"Secara mekanisme, tekanan darah tinggi pada dasarnya menyebabkan kerusakan sel dinding pembuluh darah (sel endotel) dan juga mengganggu fungsi dari otot di dinding pembuluh darah nadi atau arteri. Kondisi ini dapat membuat arteri menjadi kaku dan tersumbat," tuturnya.
Faktor Risiko
Di kesempatan berbeda, dokter spesialis saraf konsultan neurodegeneratif dr. Dyah Tunjungsari, SpN (K) dari Rumah Sakit Pondok Indah mengatakan bahwa ada dua faktor risiko stroke yakni yang dapat diubah dan tidak diubah.
Salah satu yang dapat diubah adalah pola makan yang memicu stroke. Dokter Dyah menuturkan bahwa biang kerok stroke usia muda adalah hipertensi dan kolesterol tinggi.
"Hipertensi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi dapat dimodifikasi, otomatis pasien-pasien yang tidak jaga makan, kurang serat, konsumsi lemak jenuh l, maka bisa sebabkan terjadinya faktor risiko stroke," ujarnya dalam media virtual RSPI bertajuk Transcranial Magnetic Stimulation (TMS).
Ada pun faktor risiko yang tidak dapat diubah seperti genetik, jenis kelamin, dan ras.
Namun, ketika ada riwayat stroke pada keluarga, faktor yang dapat dimodifikasi harus dilakukan sejak dini. Termasuk juga dengan olahraga dan nutrisi seimbang.
"Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin, apalagi bila ada riwayat stroke di keluarga," tambah dokter Dyah.
Tidak Bisa Sembuh tapi Bisa Dikontrol
Tekanan darah tinggi atau hipertensi tak dapat diobati namun bisa dikendalikan dengan menjaga pola hidup sehat, konsumsi makanan bergizi, serta aktif berolahraga.
Kendati begitu, pengendalian hipertensi rupanya juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat anti-hipertensi yang kerap diabaikan banyak orang.
