Berisiko Tinggi COVID-19, Pasien Kanker Perlu Vaksin Monoklonol untuk Perlindungan Ekstra
- Pexels/Maksim Goncharenok
Di sisi lain, antibodi monoklonal dapat memberikan perlindungan jangka panjang hingga 6 bulan dan efektif melawan virus SARS-Cov-2 yang telah bermutasi.
Efektivitas Vaksin COVID-19 berkurang pada individu dengan gangguan fungsi sistem imun. Sebagai solusi, individu dengan gangguan sistem imun memerlukan opsi tambahan untuk mendapatkan perlindungan yang lebih optimal terhadap infeksi COVID-19.
Menurut dokter Jeffry, perbedaan vaksinasi aktif dengan monoklonal adalah vaksinasi aktif memaparkan sebagian virus ke tubuh untuk dikenali sistem imun dan membentuk sistem perlawanan.
"Tentaranya dilatih, dikasih dummy musuh, dikenalkan sehingga mereka tahu kalau ketemu musuh seperti itu cara melawannya bagaimana. Tapi kalau tentara gak cukup kuat, dikasih imunisasi pasif juga, dikasih tambahan dari luar. Jadi imunisasi pasif ini gak memancing imunitas untuk melawan infeksi, tapi kita kasih alat tentara baru yang memang didesain untuk melawan infeksi virus," urainya.
Ilustrasi Pasien covid-19
- Times of India
Pada antibodi monoklonal, lanjut dokter Jeffry, pasien langsung diberikan perlindungan dalam bentuk antibodi. Karena, pasien kanker yang menjalani kemo kemungkinan tidak memberikan perlindungan cukup sehingga ditambahkan dari luar untuk meningkatkan suplai melawan COVID-19.
Pentingnya pemberian vaksin, baik aktif maupun pasif pada pasien kanker, adalah untuk mencegah terjadinya COVID-19 yang berat. Perlu diingat bahwa vaksin memang tidak bisa 100 persen mencegah COVID-19, namun tujuan utamanya adalah mencegah gejala yang lebih berat.
