Kenali Penyebab Virus Marburg, Ternyata Menular Lewat Liur
- Freepik/kjpargeter
Logo WHO.
- WHO
Meski belum ada obat dan vaksinnya, namun WHO sudah melakukan pertemuan untuk menemukan solusi dari virus marburg tersebut. Menkes Budi sendiri mengatakan bahwa perkembangan mengenai sifat virus marburg sudah didapatkan dari WHO sehingga cukup dipantau tanpa perlu panik.
"Jadi kita tidak usah terlalu panik juga, kita lihat ada level-levelnya apakah ini masuk variant of interest, jadi kita perhatikan. Apakah masuk variant of concern, masuk under monitoring, jadi kita tahu ikut WHO informasinya juga sudah kita dapat," terangnya.
Ada pun, pakar peringatkan bahaya penularan yang meluas di Afrika pada virus marburg dengan risiko tinggi mematikan ke manusia. Prediksi tersebut diungkap usai ditemukannya dua kasus baru digaan virus marburg di Kamerun, Afrika Tengah.
ilustrasi penyakit/bakteri/virus.
- Unsplash
Negara tetangganya, Guinea Khatulistiwa, pertama kali melaporkan wabah penyakit itu pada Senin 13 Februari 2023, yang telah merenggut nyawa sembilan orang. Kamerun telah membatasi pergerakan di sepanjang perbatasan untuk mencoba dan menghentikan penyakit, yang memiliki tingkat kematian 88 persen, agar tidak menyebar. Namun sayangnya, dua remaja di negara tersebut telah terjangkit penyakit tersebut.
"Pada 13 Februari, kami memiliki dua kasus yang dicurigai. Ini adalah dua anak berusia 16 tahun, laki-laki dan perempuan," Robert Mathurin Bidjang, seorang pejabat kesehatan masyarakat Kamerun.
Pejabat kesehatan di negara itu kini memantau 42 orang yang merupakan kontak dekat kedua remaja itu, dan menindaklanjuti kontak lainnya. Jenis virus mematikan, yang mirip dengan Ebola, menyebabkan mereka yang teringeksi, meninggal akibat kehabisan darah.
Ilustrasi orang sakit.
- vstory
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengadakan pertemuan mendesak mengenai kasus-kasus tersebut, memanggil para ahli dari seluruh dunia untuk membahas cara mengatasi penyakit tersebut. Guinea Khatulistiwa, yang belum pernah menangani wabah virus Marburg sebelumnya, telah mengkarantina lebih dari 200 orang dan membatasi pergerakan.
Banyak yang tertular penyakit ini mengalami pendarahan internal yang parah dalam waktu seminggu, dengan darah dari hidung, gusi, vagina dan muntahan serta tinja, dan meninggal tidak lama kemudian. Terlebih, Tidak ada pengobatan atau vaksin untuk Marburg.
"Virus ini ditularkan ke manusia dari kelelawar buah, dan dapat menyebar di antara manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, permukaan, dan bahan," kata pihak WHO.
