Makan Berlebih Diklaim Picu Bobot 27 kg Bayi Kenzi, Pakar Imbau Perbaiki Pola Asuh
- VoxPop/Rahmat Fatahillah Ilham
Orang tua harus terus memantau berat badan dan tumbuh kembang anak sejak bayi, dengan kurva pertumbuhan. Melalui kurva ini, akan terlihat bagaimana penambahan berat badan bayi/anak; apakah sesuai dengan tinggi badan maupun usianya. Waspada bila berat badan si Kecil menurut tinggi badannya +2 SD (standar deviasi), yang menunjukkan bahwa ia sudah mengalami kegemukan.
Bila angkanya mencapai +3 SD, maka si Kecil tergolong obesitas. Ditekankan oleh dokter Frida, menurunkan berat badan anak yang gemuk/obes bukan dengan cara diet ketat dan melarang anak makan makanan tertentu.
“Apalagi sampai mengurangi jumlah kalori secara drastis, karena akan membuat anak craving atau kelaparan. Akhirnya, terjadi efek yoyo,” jelasnya.
Ilustrasi Bayi mengenal tekstur makanan
- Pixabay/ 3217138
Yang dibutuhkan adalah mengembalikan pola makan sesuai kebutuhan kalori yang normal. Pertama-tama, buatlah jadwal makan teratur. Terdiri dari tiga kali makan besar (sarapan, makan siang, makan malam), serta dua kali selingan.
“Paling bagus adalah menu yang berwarna-warni dalam satu piring. Kalau berwarna-warni pasti sehat karena ada warna sayuran,” papar dr. Frida.
Untuk membentuk pola makan yang baik, perlu kerja sama seluruh anggota keluarga di rumah. “Berikan contoh langsung karena anak akan meniru apa yang dimakan anggota keluarga lain,” tegasnya.
