Virus Marburg Mewabah, Belasan Orang Meninggal, Sudah Muncul di Indonesia?
- WHO
Kelelawar buah Rousettus dianggap sebagai inang alami bagi virus Marburg. Namun, monyet hijau Afrika yang diimpor dari Uganda adalah sumber infeksi manusia pertama, kata WHO. Ini pertama kali terdeteksi pada tahun 1967 setelah wabah serentak di Marburg dan Frankfurt di Jerman; dan di Beograd, Serbia.
Penyakit ini memiliki tingkat kematian rata-rata sekitar 50 persen. Namun, bisa serendah 24 persen atau setinggi 88 persen tergantung pada jenis virus dan manajemen kasus, kata WHO.
Setelah timbulnya gejala, yang dapat dimulai kapan saja antara dua hingga 21 hari, virus ini dapat memanifestasikan dirinya dalam bentuk demam tinggi, nyeri otot, dan sakit kepala parah. Sekitar hari ketiga, pasien melaporkan sakit perut, muntah, diare berair yang parah, dan kram.
Pada fase ini, kata WHO, penampilan pasien sering digambarkan sebagai "seperti hantu" dengan mata cekung, wajah tanpa ekspresi, dan kelesuan yang ekstrem. Antara hari kelima dan ketujuh, pasien melaporkan pendarahan dari hidung, dan gusi serta darah muncul dalam muntahan dan tinja. Kehilangan darah yang parah menyebabkan kematian, seringkali antara delapan hingga sembilan hari setelah gejala dimulai.
Bagaimana penyakit virus Marburg dapat didiagnosis dan diobati?
Ilustrasi virus.
- Freepik/Harryarts
Sulit untuk secara klinis membedakan Marburg Virus dari penyakit seperti malaria, demam tifoid dan demam berdarah virus lainnya. Namun, hal itu dikonfirmasi oleh pengujian laboratorium terhadap sampel, yang seperti Coronavirus dan Ebola merupakan risiko biohazard yang ekstrem.
Tidak ada pengobatan antivirus atau vaksin yang disetujui untuk Virus Marburg sampai sekarang. Ini dapat dikelola dengan perawatan suportif. Menurut WHO, rehidrasi dengan cairan oral atau intravena, dan pengobatan gejala tertentu dapat membantu mencegah kematian
Sudah Muncul di Indonesia?
Ilustrasi peta Indonesia.
Indonesia melakukan penilaian risiko cepat (rapid risk assessment) penyakit virus Marburg pada 20 Februari 2023. Hasilnya didapatkan bahwa kemungkinan adanya importasi kasus virus Marburg di Indonesia adalah rendah.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Mohammad Syahril mengingatkan pemerintah dan masyarakat jangan sampai lengah terhadap virus tersebut.
“Kita perlu tetap melakukan kewaspadaan dini dan antisipasi terhadap penyakit virus Marburg,” ujarnya
