Dinkes: Mata Merah dan Banyak Belek Jadi Gejala Baru COVID-19 Arcturus
- Pexels
Ilustrasi sampah masker.
- Pixabay
Dikutip laman Times of India, sesuai data bahwa kasus COVID aktif di Uttar Pradesh telah meningkat tiga kali lipat dalam 10 hari terakhir. Data pemerintah terbaru menunjukkan bahwa jumlah distrik dengan tingkat tes positif (TPR) mingguan 10 persen atau lebih telah meningkat menjadi 32 di 14 negara bagian dan UT, kenaikan 3,5 kali lipat dalam dua minggu.
Menurut para ahli, varian baru COVID XBB.1.16 menjadi penyebab kekhawatiran atas lonjakan jumlah kasus yang tiba-tiba. Hal itu diungkap mantan ketua Indian Academy of Pediatrics dan konsultan dokter anak di Rumah Sakit dan Pusat Penelitian Mangla, Bijnor, Vipin M Vashishtha, dalam cuitan twitternya.
"XBB.1.16 memiliki keunggulan pertumbuhan 140% dibandingkan XBB.1.5. Ini jauh lebih agresif dari XBB.1.5. Dan mungkin lebih cepat dari XBB.1.9," tulisnya.
Seberapa bahaya varian Arcturus?
Vipin M Vashishtha berbagi bahwa menurut Badan Keamanan Kesehatan Inggris, XBB.1.16 adalah garis keturunan dengan 3 mutasi virus tambahan yakni E180V, K478R, dan S486P. Menurutnya, varian ini mendadak mendominasi dibanding varian sebelumnya yang muncul.
"Semua mata harus tertuju pada India! Jika XBB.1.16 alias #Arcturus berhasil mengarungi kekebalan populasi 'kokoh' orang India yang berhasil menahan gempuran varian seperti BA.2.75, BA.5, BQs, XBB.1.5, maka seluruh dunia pasti sangat khawatir!!," tambahnya di utas Twitter.
Menurut dokter Vipin, pasien COVID dengan varuan Arcturus menunjukkan gejala yang sama seperti pada gelombang ketiga pandemi di India antara Januari dan Maret tahun lalu. Gejala umum dari varian baru ini antara lain demam, sakit tenggorokan, pilek, sakit kepala, nyeri badan, dan kelelahan. Virus itu juga bisa berdampak pada sistem pencernaan Anda.
Bahkan dengan peningkatan jumlah kasus, rumah sakit di seluruh negeri tidak mendapatkan pasien COVID yang terburu-buru dan rawat inap secara keseluruhan tetap rendah. Ada sedikit bukti keparahan yang terkait dengan varian baru yang sangat menular, menurut penelitian.
