Waspada Polusi Udara Turunkan Kualitas Sperma, Ancaman Serius Bagi Kesuburan Pria

Ilustrasi sperma.
Sumber :
  • Pixabay

Masker Polusi Udara

Photo :
  • VoxPopnews/Anhar Rizki Affandi
img_title Duh! Minggu Pagi Ini Kualitas Udara Jakarta Terburuk Ketiga di Dunia

Paparan pada tingkat lalu lintas jalan raya rata-rata yang 10,2 desibel lebih tinggi selama lima tahun juga dikaitkan dengan peningkatan risiko infertilitas sebesar 14 persen di antara wanita di atas 35 tahun, tetapi tidak di antara wanita yang lebih muda (30-35 tahun). Polusi suara dikaitkan dengan peningkatan 'kecil' pada infertilitas pada pria yang lebih tua, yang berusia antara 37 hingga 45 tahun.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menulis, "Baik stres maupun gangguan tidur juga diduga jadi penyebab  gangguan fungsi reproduksi, termasuk berkurangnya jumlah dan kualitas sperma, serta ketidakteraturan menstruasi."

img_title Tak Perlu Merokok, Udara Kota Sudah Bisa Membuat Jantung Kamu Rusak

Temuan peneliti sama untuk peserta yang tinggal di daerah pedesaan dan perkotaan, dan terjadi tanpa memandang status keuangan peserta. Perlu dicatat bahwa ini adalah penelitian observasional, jadi tidak dapat secara langsung mengatakan bahwa polusi menyebabkan infertilitas. Penelitian ini juga tidak mengukur asap atau kebisingan yang dapat diterima seseorang di tempat kerja atau jika mereka berolahraga di luar ruangan, seperti berlari. Namun, para peneliti mengatakan bahwa jika temuan mereka dapat direplikasi maka hal itu dapat membantu menciptakan strategi dan kebijakan untuk melindungi populasi dari kebisingan dan polusi udara.

Apa itu PM2.5? 

img_title Sabtu Pagi Ini Jakarta jadi Kota Paling Berpolusi

PM2.5 adalah partikel polusi yang lebih kecil dari 2,5 mikrometer dan dapat berada di saluran napas dan jauh di dalam paru-paru yang dapat menyebabkan masalah kesehatan. Partikel ini terdiri dari potongan-potongan kecil padatan atau cairan yang menggantung di udara. Partikel ini dapat berasal dari lalu lintas jalan raya, termasuk emisi karbon dari mesin, potongan-potongan kecil logam dan karet dari keausan mesin dan pengereman serta debu dari permukaan jalan. Partikel ini juga dapat berasal dari material bangunan dan industri serta debu yang tertiup angin, garam laut, serbuk sari, dan partikel tanah. 

Profesor Jill Belch, seorang ahli dalam pengobatan vaskular dan polusi udara dari Universitas Dundee, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan, "Ini adalah penelitian utama yang menghubungkan efek yang lebih beracun dengan paparan polusi udara khususnya dengan partikel yang sangat kecil PM2.5."

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut