Penyintas COVID-19 Berpotensi Mengalami Kanker Paru? Simak Penjelasan Dokter!

ilustrasi kanker
Sumber :
  • www.istockphoto.com

Jakarta, VoxPop – Kanker menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia, merenggut nyawa sekitar 9,6 juta orang setiap tahunnya.

img_title Pertama Kali Sejak Pandemo Covid-19, China Gagal Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

Di Indonesia, berdasarkan data Globocan 2020, tercatat 396.314 kasus kanker baru dengan angka kematian mencapai 234.511 orang dan kanker paru menjadi jenis kanker tertinggi yang menyerang laki-laki, dengan 34.783 kasus.

Faktor utama penyebab kanker paru adalah kebiasaan merokok, tetapi paparan zat karsinogen seperti asbes, eter, hidrokarbon polisiklik aromatik, dan arsen anorganik juga dapat meningkatkan risiko.

img_title Hakim Tolak Dalih COVID-19 Nadiem di Perkara Chromebook, Singgung Arahan 'Mas Menteri'

Muncul pertanyaan baru setelah pandemi COVID-19,  apakah penyintas COVID-19 berpotensi mengalami kanker paru? Yuk lanjut scroll artikel selengkapnya berikut ini.

Hubungan COVID-19 dan Kanker Paru

img_title Dua Terdakwa Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Westafel saat Covid-19 Divonis Bebas

Virus Corona atau Covid-19.

Photo :
  • Times of India

Spesialis Paru dr. Linda Masniari, Sp.P (K) Onk T, FISR dari MRCCC Siloam Hospital menjelaskan bahwa ada penelitian yang tengah mengeksplorasi kemungkinan COVID-19 memicu kanker paru. Meski begitu, penelitian ini masih memerlukan waktu untuk membuktikan keterkaitan tersebut.

"Sekarang di Rumah Sakit Persahabatan lagi diteliti apakah virus COVID pasca pandemi bisa menyebabkan kanker paru," ungkap dr. Linda di Jakarta, Senin 10 Maret 2024.

Proses terjadinya kanker paru umumnya membutuhkan waktu panjang, sekitar 15 hingga 20 tahun untuk berkembang. Oleh karena itu, dampak infeksi COVID-19 terhadap risiko kanker paru kemungkinan baru terlihat dalam beberapa tahun ke depan.

Kaitan TBC dan Kanker Paru

Ilustrasi gambar paru-paru.

Photo :
  • Pixabay

Berbeda dengan COVID-19, tuberkulosis (TBC) sudah terbukti memiliki hubungan dengan kanker paru.

Oleh sebab itu, dokter biasanya menyarankan penyintas TBC untuk rutin melakukan pemeriksaan rontgen setiap tahun guna mendeteksi luka baru yang berpotensi berkembang menjadi kanker.

"Untuk virus COVID jadi kanker paru belum ada hasilnya, tapi lagi diteliti. Untuk penyintas TBC bisa jadi kanker paru, makanya untuk TBC kita sarankan setiap tahun harus foto rontgen untuk melihat apakah ada luka baru atau tidak," jelas dr. Linda.

Pengobatan Kanker Paru dan Dukungan Asuransi

Spesialis Paru Dr. Linda Masniari, Sp.P (K Siloam Hospital

Photo :
  • Istimewa

Saat ini, pengobatan kanker paru terus berkembang, termasuk obat-obatan yang menargetkan mutasi genetik tertentu, seperti ALK positif.

Beberapa obat dapat ditanggung oleh asuransi pemerintah, BPJS Kesehatan, tetapi dengan keterbatasan tertentu. Oleh karena itu, memiliki asuransi tambahan di luar BPJS bisa menjadi solusi untuk mendapatkan akses yang lebih luas terhadap pengobatan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut