Paparan Gadget Berlebih Sebabkan Autisme Virtual pada Anak
- Pixabay.
Ilustrasi anak main HP/gadget.
- Pexels/Ron Lach
Meskipun demikian, dr. Amanda menegaskan bahwa autisme virtual berbeda dengan autisme yang sebenarnya.
Perilaku anak memang menyerupai autisme, namun sifatnya bisa dibalik atau diperbaiki jika intervensi dilakukan dengan tepat.
"Maka sekarang ada yang dikenal sebagai virtual autism. Ini istilah beneran, istilah yang ada di literatur. Pola perilakunya mirip autism. Kalau saya bilang mirip, berarti ini bukan autism," paparnya.
Berbeda dengan autisme sejati yang berkaitan dengan kondisi neurobiologis permanen, gejala autisme virtual dapat membaik secara signifikan jika paparan gadget dihentikan dan anak mendapatkan stimulasi yang tepat.
"Jadi anaknya bisa balik lagi (seperti semula sebelum terpapar gadget)," tutup dr. Amanda Soebadi.
Lebih lanjut, gejala yang umum terlihat pada autisme virtual antara lain: anak tidak merespon saat dipanggil, kurang melakukan kontak mata, ekspresi wajah yang datar atau tidak sesuai, hingga perilaku repetitif yang tidak biasa.
Hal ini lebih disebabkan oleh kurangnya stimulasi sosial dan komunikasi.
"Dia biasanya menunjukkan perilaku autisme kalau dipanggil tidak merespon, kontak matanya kurang, ekspresi wajah kurang atau tidak sesuai. Itu karena kurang atau salah stimulasi," kata dr Amanda.
