Belajar Pola Asuh Dari Filosofi China
- VoxPop.co.id/Ikhwan Yanuar
VoxPop.co.id – Hampir semua orangtua saat ini mengajarkan anak-anaknya untuk mengenali diri mereka, berani bermimpi besar dan menggapai cita-cita setinggi langit. Tapi, membangun anak menjadi pribadi yang berkembang ketika mereka dewasa justru dilakukan dengan cara yang sebaliknya.
Cara yang sudah dipraktikkan sejak 2000 tahun yang lalu oleh para filsuf China seperti Mensius, Konfusius, dan Laotzu. Berikut bagaimana mereka mendidik generasi anak-anak seperti dilansir laman The New York Times.
Jangan Mencari Apa Passion-mu
Banyak orangtua berpikir bahwa mengajarkan anak untuk menggali kelebihannya sehingga dia tahu apa yang menjadi nilai dalam dirinya. Mereka juga jadi lebih memahami apa yang menjadi passion atau gairah mereka yang bisa menjadikan mereka berbeda.
Tapi, filosofi China mengatakan bahwa mencari tahu siapa diri Anda dan apa yang Anda cintai adalah hal berbahaya. Ketika Anda mendorong buah hati untuk mengenali jati diri mereka saat itu, artinya Anda membatasi mereka tanpa tahu bahwa manusia berubah seiring waktu.
Para filsuf juga China berpendapat bahwa manusia adalah makhluk kompleks dan selalu berbenturan dengan keberagaman. Seiring waktu kita bertumbuh, karena itu, ajarkan anak untuk memandang diri mereka sebagai makhluk yang terus berubah dan mengembangkan minat baru.
Berpura-pura
Para filsuf China mengajarkan bahwa berpura-pura memiliki tujuan mulia, tidak hanya untuk anak-anak tapi juga orang dewasa. Berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri mereka sama seperti mempraktikkan ritual Konfusianisme “seolah-olah”. Misalnya, ketika Anda baru saja mengalami hari buruk tapi tetap menyapa ramah orang yang Anda kenal di jalan. Hal ini tidak hanya mengajarkan anak untuk lebih sopan dan baik, tapi juga mengajarkan untuk tidak terjebak pada paham menjadi diri mereka apa adanya.
Jangan Hindari Hal yang Tidak Disukai
Ketika anak-anak memahami apa yang mereka suka dan tidak, mereka secara bertahap akan menjauhi apa yang tidak mereka minati. Tapi menurut tulisan Mensius, betapa efisiennya membuat rencana matang untuk karier masa depan dan kemudian mengubahnya beberapa tahun mendatang karena Anda menyadari menjalani hidup yang diputuskan oleh diri Anda saat usia 17 tahun.
