Pendidikan Musik Klasik Bisa Buat Anak Lebih Toleran

Anak main biola.
Sumber :
  • Pixabay/Sarab123

VoxPop.co.id – Musik klasik selalu identik dengan hal yang membosankan atau hanya dimainkan dan didengarkan oleh masyarakat kalangan atas saja. Tapi sebenarnya, musik klasik punya kelebihan yang jauh dari sekadar musik kalangan atas saja.

img_title Konser Gen Alpha of Classical Music: Perpaduan Musik Klasik dan Sentuhan Modern

Menurut pianis dan komponis Ananda Sukarlan, musik klasik sama seperti sebuah karya sastra. Sama halnya dengan sastra, musik merupakan sebuah karya tertulis jadi istilah yang tepat untuk musik ini adalah musik sastra.

Musik klasik, lanjut Ananda, juga tidak terbatas pada karya-karya Beethoven atau Mozart, tapi semua musik yang ada di dunia. Karena musik tertulis dalam bentuk yang baku, jadi musik ini adalah musik yang bisa dimainkan oleh pianis manapun di seluruh dunia.

img_title Kompetisi Piano Nusantara Plus: Sukses Temukan 477 Musisi Klasik Terbaik Indonesia

Menurut Ananda, musik sastra ini bisa digunakan untuk teknik pendidikan anak sekolah dasar (SD). Tidak seperti musik, hampir semua pendidikan di sekolah dasar mengeliminasi karakter individu anak.

"Semua anak berusaha diseragamkan. Tapi, seni musik memiliki efek kebalikan, tiap anak diajarkan untuk menemukan identitas diri, menemukan karakter, dan ekspresi setiap anak pasti berbeda," ujar Ananda saat presentasi 'Pendidikan Karakter Berbasis Musik untuk Sekolah Dasar' di Museum Nasional, Jakarta, Senin, 16 Januari 2017.

img_title Madeline Saputra, Penyanyi Sopran Indonesia yang Bersinar di Eropa

Kebalikan dengan pendidikan formal yang menuju pada keseragaman, pendidikan seni lebih menanamkan pada keberagaman. Hal ini nantinya akan membuat lebih bertoleransi tinggi dan menghargai keberagaman. Dia akan lebih menghargai adanya perbedaan suku, agama, maupun pandangan politik.

Jika mereka sudah mempelajari musik ini, anak-anak akan dapat mengenal diri sendiri. Di bisa memilih musik yang cocok dengan karakternya dan mengekspresikan apa yang ingin diutarakan. Dengan demikian, musik dapat memaksimalkan potensi anak.

"Tujuan pendidikan ini bukan supaya anak jadi musikus, tapi agar anak mengaktifkan otak yang tidak dipakai ketika tidak bermain musik. Pendidikan musik bukan hanya menyanyi dan membaca not balok, tapi lebih kompleks seperti memainkan instrumen," imbuh Ananda.

Dengan memainkan instrumen, anak akan mengoordinasikan antara otak dengan panca indera yaitu indera pendengaran, serta taste karena dia harus mengatur tempo dan keseimbangan gerakan organ seperti ketika main piano harus mengoordinasikan antara jari tangan dengan kaki yang menginjak pedal.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut