Ngopi di Kafe Ini Diklaim Bisa Bikin Cerdas
- VoxPop.co.id/Lucky Aditya
Bahkan, kafe Oase juga punya program andalan yang disebut kelas filsafat; forum diskusi terbatas membahas ilmu filsafat, yang diselenggarakan setiap Kamis. Sedang disusun program kelas menulis esai dan kelas sastra; forum diskusi terbatas yang mengkaji sastra. Sesekali mendatangkan narasumber utama yang dianggap menguasai tema-tema spesifik, misalnya, John Roosa dan Ignatius Haryanto.
Ngopi cerdas
Trio pendiri kafe dan Muiz, sang pengelola, mulanya jengah mengamati banyak kedai kopi atau kafe berkonsep modern yang hanya menawarkan menu kopi dengan ragam variasi--murni atau campuran. Bahkan tak jarang cuma jadi tempat swafoto.
![]()
Lebih jengah lagi, Muiz mula-mula bercerita, kala melihat sekelompok muda-mudi kongko, mengobrol aneka topik tak keruan, sesekali cekakak-cekikikan, sedari pagi sampai menjelang petang. Kalau ada fasilitas akses internet nirkabel, mereka bisa lebih betah lagi. Pesannya cuma secangkir kopi.
"Menurut saya, itu merugikan pemilik kafe, karena pesannya kopi, tapi nongkrongnya sampai kafenya tutup," katanya, mengandung cibiran, ketika ditemui VoxPop.co.id di kafenya pada Selasa, 11 September 2017.
Tercetuslah kemudian ide mendirikan sebuah kafe literasi, kedai kopi yang menawarkan alternativ perpustakaan dengan ratusan buku bacaan bagi para pengunjung. "Ngopi kalau hanya sekadar ngopi garing (tak bermakna/bermanfaat)," ujar Muiz menyederhanakan kegiatan ngopi yang hanya bersifat hura-hura. Bagi kalangan mahasiswa, katanya, semacam itu jelas tak produktif; bukan ciri intelektual. "Di sini bisa membaca, bisa memilih diskusi yang diikuti."
Menu kopi yang ditawarkan Oase, Muiz sesumbar, pun bukan kopi sembarangan. Secara umum ada dua jenis kopi: robusta dan arabica. Jenis pertama terdiri empat varian, yakni Sridonoretno, Bajawa, Lanang LDR, dan Oase Kopi. Jenis berikutnya terdiri tiga varian, yaitu Juria, Bajawa, dan Toraja.
Kopi-kopi Nusantara itu diracik dengan cara murni alias orisinal. Pengunjung memilih langsung jenis kopi yang masih berbentuk bijian namun telah disangrai, lalu digiling hingga berwujud bubuk, dan dihidangkan dengan tiga pilihan penyajian: tubruk, Vietnamese drip, atau French press.
Misi kafe Oase menyajikan kopi lokal itu, kata Muiz, untuk "memberikan kesadaran cerdas ngopi". Kafenya pantang menyuguhkan kopi instan dengan kemasan sachet. "Kopi kalau sachet-an tidak cerdas." Dia meyakini, remaja atau pemuda yang terbiasa dengan tradisi instan kelak menjadi generasi instan; manja dan malas bekerja keras.
