Simpel, 5 Trik Jitu Pacu Semangat Anak Belajar Jelang Ujian
- U-Report
VoxPop – Nilai Ujian Sekolah (US) merupakan salah satu syarat penentu kelulusan anak, selain nilai rapor dan nilai sikap siswa. Sayangnya, banyak orangtua yang salah langkah dan justru membuat buah hatinya takut menghadapi ujian. Padahal, caranya sederhana lho, moms!
Para siswa hendaknya dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi US, dan para orang tua memberikan sarana sumber belajar terbaik bagi putra putri tercintanya agar meraih nilai terbaik. Salah satu caranya adalah dengan memacu semangat anak. Nah, ini yang perlu dipahami dulu bagi para moms.
Menurut pemerhati anak, Shahnaz Haque dalam Webinar Motivasi US 2022 “Ujian Sekolah, Pentingnya di Mana?" bersama penerbit Erlangga, bahwa untuk membangun semangat anak, lingkungannya harus mendukung dengan baik.
Di sekolah, sebisa mungkin tidak ada suasana mencekam jelang ujian sehingga anak lebih rileks. Sama halnya ketika anak di rumah. "Energi itu nular. Walau kita deg-deg-an, jangan liatin ke anak," tutur Syahnaz.
Presenter 49 tahun itu menyampaikan bahwa para orangtua harus mampu membangun suasana hati anak dengan baik. Ia mencontohkan, ketika anaknya hendak ujian esok, Syahnaz justru mengajaknya bersantai sembari meningkatkan bonding seperti nonton film atau makan bersama.
Ilustrasi anak belajar.
- Freepik/bristekjegor
"Tugas saya menciptakan hati anak saya bahagia. Dia udah belajar tiap hari. Tugasnya kalau mau ujian, bukan belajar, tapi rileks. Kalau nggak, stres. Supaya mereka sehat fisik dan pikiran. Kalau anak semangat, insyaallah ujungnya prestasi," terang Syahnaz.
Diakui Syahnaz, prestasi tiap anak diraih dengan cara yang berbeda serta waktu yang tak sama. Sebab, kemampuan tiap anak pun berbeda. Untuk itu, Syahnaz menganalogikan cara menyemangati anak dengan menarik daun pintu.
"Jangan tarik anak di posisi kita, dia mesti berpikir dengan cara kita berpikir dan memahami perasaan kita dan mesti ikuti step by step kitq. Pasti bertengkar. Idealnya, dorong diri kita di posisi dia. Berpikir cara anak berpikir, memahami cara pikirnya dan biarkan cara dia bertindak. Energinya lebih enteng. Karena setiap anak punya modalitas berbeda, hargain," terangnya.
