Istri Deddy Corbuzier Sabrina Chairunnisa Soroti Kematian Timothy Anugerah
- IG @sabrinachairunnisa_
VoxPop – Kasus meninggalnya mahasiswa Universitas Udayana (Unud) Bali, Timothy Anugerah Saputra, masih menyisakan duka mendalam dan kemarahan publik. Tragedi yang diduga berkaitan dengan tindakan perundungan (bullying) ini tak hanya membuat masyarakat terpukul, tetapi juga memicu reaksi dari berbagai kalangan, termasuk Sabrina Chairunnisa, istri dari Deddy Corbuzier.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sabrina menyampaikan rasa sedih sekaligus kekecewaannya terhadap kasus yang menimpa mahasiswa tersebut. Ia menyoroti bagaimana tragedi yang berawal dari perundungan justru bisa dijadikan bahan candaan oleh sebagian pihak. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
![]()
“It breaks my heart that a tragedy born from b*llying can still be turned into a joke! And the ones behind it... are future doctors. How can those who should save lives, forget what empathy means? (Sungguh membuat hatiku hancur bahwa tragedi yang lahir dari perundungan masih bisa dijadikan bahan bercanda. Dan pelakunya... calon-calon dokter. Bagaimana mungkin mereka yang seharusnya menyelamatkan nyawa bisa lupa apa itu empati?),” tulis Sabrina yang dikutip dari Instagramnya @sabrinachairunissa_ pada Selasa, 21 Oktober 2025.
Dalam unggahan berikutnya, Sabrina juga menyinggung sikap pihak kampus yang sering kali cepat membantah tidak ada perundungan sebelum kasus benar-benar diusut.
“Last but not least, please lah ya buat Pihak kampus jgn dikit2 bilang OH GA ADA KOK PERUDUNGAN sblm korban meninggal. Cmn krn BUKTI CHAT adanya setelah kepergian korban. Sampe kapan mau begini terus kampus2 ya kalau menghadapi kasus pemblian. Muakkkk bgt sumpah,” katanya melanjutkan.
Ungkapan emosional tersebut menunjukkan betapa frustrasinya Sabrina melihat pola berulang di mana institusi pendidikan cenderung mengutamakan citra ketimbang keadilan bagi korban.
Tak berhenti di situ, Sabrina juga mengaku pernah menjadi korban perundungan, sehingga ia merasakan betul dampak trauma yang tidak mudah hilang.
“I was once a victim of b1lyng too. And the truth is, the trauma never really goes away. Every time I read news like what happened to the late Timothy, it's deeply triggering... How many more ‘Timothys’ do we need before people finally open their eyes? Or will it only matter when their own children become the victims? (Aku juga pernah jadi korban perundungan. Dan kenyataannya, traumanya tidak pernah benar-benar hilang. Setiap kali membaca berita seperti yang terjadi pada Timothy, luka lama itu kembali terbuka... Berapa banyak lagi ‘Timothy’ yang harus ada sebelum orang-orang sadar? Atau ini baru akan penting jika anak mereka sendiri yang jadi korban?)”
