Soroti Soal Broken Strings, Tengku Zanzabella: Bisa Saja Roby Tidak Seburuk Itu dan Aurelie Tidak Sebaik Itu

Aurelie Moeremans.
Sumber :
  • Instagram @aurelie

VoxPop – Perbincangan seputar buku memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans terus bergulir dan memantik perdebatan luas di ruang publik. Kisah pengalaman masa lalu yang diungkap Aurelie tentang dugaan child grooming menyentuh emosi banyak pembaca, namun di sisi lain juga memunculkan spekulasi liar yang menyeret nama Roby Tremonti sebagai sosok yang diduga berada di balik nama samaran “Bobby”.

img_title Heboh Eza Gionino Tonjok Roby Tremonti hingga Ribut Besar, Cuma Gimmick Biar Viral?

Di tengah derasnya opini warganet, Tengku Zanzabella angkat bicara. Ia menilai publik perlu menahan diri dan tidak terburu-buru menyimpulkan identitas maupun kesalahan seseorang hanya berdasarkan asumsi dan potongan cerita yang berkembang di media sosial. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

Aurelie Moeremans

Photo :
  • IG @aurelie
img_title Dijodohkan dengan Inara Rusli, Roby Tremonti Tegas Menolak

Menurut Tengku Zanzabella, empati terhadap korban memang penting, tetapi tidak seharusnya menghilangkan prinsip kehati-hatian dan asas praduga tak bersalah. Ia menilai apa yang terjadi saat ini justru berpotensi menciptakan ketidakadilan baru.

“Jadi ada ketidakadilan yang dilakukan oleh para netizen kita yaitu memvonis dengan langsung menunjuk orangnya seperti Roby gitu. Dengan tidak mengurangi empati kita terhadap korban ya, kita itu nggak boleh juga memvonis langsung kalau dia adalah pelakunya gitu,” kata Tengku Zanzabella yang dikutip dari Instagram @zanzabellaa pada Jumat, 16 Januari 2026. 

img_title Beda Respons Roby Tremonti dan Eza Gionino Soal Buku Broken Strings

Ia juga menyoroti dampak serius dari tudingan publik yang tidak disertai bukti hukum. Menurutnya, ketika seseorang ditunjuk dan dihakimi ramai-ramai, reputasi dan kehidupan pribadinya bisa runtuh, terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut.

“Kalau misalnya si Roby itu klarifikasi karena dia menyangka itu dia karena mungkin orang menunjuk dia dan memvonis dia adalah orang tersebut yang melakukan abuse atau apapun itu maka reputasi dia jatuh ya,” lanjutnya.

Lebih jauh, Tengku Zanzabella menegaskan bahwa penentuan bersalah atau tidak bukan ranah publik, melainkan kewenangan aparat penegak hukum. Ia mengaku sebagai pribadi yang lebih percaya pada proses hukum ketimbang penghakiman berbasis opini.

“Kalau gue tipikal orang yang seharusnya ini dibuktikan dulu dengan putusan dari jalur hukum. Baru kita bisa memvonis dia sebagai pelaku. Kalau nggak ya sudah,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut