Aurelie Moeremans Minta Netizen Berhenti Hujat Sosok di Buku Broken Strings
- Instagram @aurelie
Jakarta, VoxPop – Buku berjudul Broken Strings karya Aurelie Moeremans masih menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Karya tersebut menarik perhatian luas karena memuat pengakuan personal Aurelie tentang pengalaman traumatis yang ia alami di masa remaja, khususnya terkait kasus child grooming saat dirinya berusia 15 tahun.
Cerita tersebut ditulis sebagai bagian dari proses penyembuhan emosional sekaligus upaya meningkatkan kesadaran publik terhadap isu kekerasan dan manipulasi terhadap anak di bawah umur. Scroll lebih lanjut yuk!
Namun, di tengah apresiasi terhadap keberanian Aurelie membuka kisah pribadinya, muncul fenomena lain yang memicu polemik. Sejumlah pembaca mulai berspekulasi mengenai identitas tokoh-tokoh yang muncul dalam buku tersebut.
Dugaan publik bahkan menyeret nama Roby Tremonti yang merasa tersindir dengan karakter bernama Bobby, serta memunculkan berbagai tebak-tebakan lain terkait sosok Jo, Mama Jo, Kelly, Milo, Zane, hingga Tom.
Situasi ini memicu perdebatan di media sosial dan berpotensi menimbulkan perundungan terhadap pihak-pihak tertentu.
Menanggapi kondisi tersebut, Aurelie Moeremans akhirnya angkat bicara melalui akun Threads miliknya. Ia secara tegas meminta para pembaca untuk tidak melakukan spekulasi berlebihan, apalagi sampai menyerang atau menghujat karakter dalam buku yang belum tentu merepresentasikan sosok nyata.
"Please.... Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan," tulis Aurelie Moeremans, dikutip Senin 19 Januari 2026.
Aurelie juga mengungkapkan bahwa berbagai asumsi yang beredar justru membuatnya merasa tidak nyaman sebagai penulis sekaligus penyintas.
"Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku nggak enak bacanya," sambungnya.
Lebih lanjut, aktris film Story of Kale: When Someone's in Love tersebut kembali menegaskan tujuan utama di balik penulisan Broken Strings.
Menurutnya, buku tersebut bukan dibuat untuk membongkar identitas individu tertentu, melainkan sebagai sarana berbagi pengalaman, luka batin, serta perjalanan pemulihan yang ia lalui.
"Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur," ungkapnya.
