Psikolog Bedah Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans, Kurang Perhatian Orang Tua?

Aurelie Moeremans.
Sumber :
  • VoxPop/Sumiyati.

Jakarta, VoxPop – Pengakuan Aurelie Moeremans tentang pengalaman child grooming yang ia tuangkan dalam buku memoarnya berjudul Broken Strings masih menjadi perbincangan hangat. Keberanian aktris tersebut membuka luka masa lalunya tidak hanya menyentuh publik, tetapi juga menarik perhatian para ahli psikologi yang mencoba melihat kasus ini dari sudut pandang ilmiah dan emosional.

img_title Aurelie Moeremans Geram YTR Masih Dicari Kesalahannya Meski Jadi Korban, Singgung soal Hal Ini

Salah satu yang angkat bicara adalah psikolog Joice Manurung. Dalam sebuah acara televisi yang dipandu Irfan Hakim, Joice memberikan penjelasan mendalam terkait kondisi psikologis Aurelie serta dinamika emosional yang kerap terjadi pada korban child grooming. Menurutnya, pengalaman hidup yang berat sejak usia muda bisa membentuk daya tahan mental seseorang. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

Aurelie Moeremans

Photo :
  • Instagram/aurelie
img_title Aurelie Moeremans Soroti Kasus YTR, Ungkap Pola Toxic Relationship Mirip Pengalaman Pribadi

“Satu sisi yang saya lihat dari Aurelie, beliau punya daya tahan emosi yang relatif kuat ya. Jadi barangkali bentukan pengalaman hidupnya tuh cukup bergejolak cukup tangguh sehingga dia terbiasa dengan tekanan, terbiasa dengan situasi yang membuat dia tidak merasa nyaman, kemungkinan seperti itu,” jelas Joice Manurung yang dikutip dari tayangan YouTube pada Selasa, 20 Januari 2026. 

Namun, ketenangan Aurelie saat menceritakan kisah pahit tersebut juga dinilai sebagai bentuk mekanisme bertahan. Joice menyebut, banyak korban trauma yang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya menyimpan tekanan emosional dalam jangka panjang.

img_title Broken Strings Difilmkan, Penasaran Siapa yang Bakal Jadi Bobby Si Sosok Misterius?

“Namun, sisi lain saya pikir ini upaya dia juga untuk menenangkan dirinya. Jadi banyak orang memilih cara merasionalisasi dan menunjukkan sesuatu yang sifatnya tuh ah gapapa kok saya bisa lalui kok. Satu sisi itu baik karena itu membantu dia bisa melewati, dia menyelesaikan strenya tekanannya. Namun, satu sisi itu kan menimbun sebenarnya,” lanjutnya.

Lebih jauh, Joice menekankan bahwa relasi dalam kasus child grooming kerap disalahartikan sebagai cinta. Padahal, yang terjadi adalah ketergantungan emosi yang terbentuk akibat kebutuhan afeksi yang tidak terpenuhi sejak awal.

“Sebenarnya ini bukan bentuk cinta dalam arti yang sebenarnya ya, tapi bentuk ketergantungan emosi. Jadi kalo biasanya child grooming itu dialami oleh anak-anak yang secara afeksinya memang kurang perhatian atau bentuk attachment atau kedekatan emosional dengan figur terdekat ayah ibu saudara misalnya itu kurang,” tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut