Kisah Mualaf Rapper Amerika Mirip Umar Bin Khattab, Dulu Benci Islam karena Hal Ini

Rapper Mutah Beale
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VoxPop – Perjalanan spiritual setiap orang kerap menghadirkan kisah yang tak terduga. Hal itu pula yang dialami rapper asal Amerika Serikat, Mutah Beale. Sosok yang dulu dikenal dengan nama panggung Napoleon ini memiliki latar belakang kelam sebelum akhirnya memutuskan memeluk Islam pada 2001. 

img_title Kisah Perjalanan Spiritual Robert Bauer: Eks Timnas Jerman yang Putuskan Mualaf Usai Bertemu Sang Istri

Transformasinya bahkan kerap disandingkan dengan kisah Umar bin Khattab, yang pada awalnya menentang Islam sebelum menjadi salah satu tokoh besar dalam sejarah peradaban Muslim. Scroll lebih lanjut yuk!

Kisah tersebut diungkapkan kembali dalam tayangan YouTube bertajuk 'Kisah Mualaf Mirip Umar Bin Khattab, Mutah 'Napoleon' Beale'. Dalam penuturannya, Mutah mengisahkan bagaimana kebenciannya terhadap Islam justru berbalik menjadi titik balik kehidupan.

img_title Masih Ingat Wolfgang Pikal? Eks Asisten Pelatih Alfred Riedl di Timnas Indonesia

Sebelum mengenal Islam, kehidupannya lekat dengan dunia jalanan. Ia tumbuh dalam lingkungan keras, terlibat dalam aktivitas geng hingga bisnis narkotika. 

Trauma masa kecil turut membentuk pandangannya. Kedua orang tuanya tewas di depan matanya saat ia masih berusia tiga tahun, sebuah pengalaman pahit yang menumbuhkan kemarahan mendalam, termasuk sikap Islamofobia.

img_title Titik Balik Hercules, Dari Sosok yang Ditakuti di Tanah Abang hingga Pilih Jadi Mualaf dan Jalani Babak Baru Kehidupan

Pada suatu waktu, ia mendatangi masjid dengan niat yang jauh dari kata baik. Ia bahkan membawa senjata dan mengajak sekitar 20 rekannya.

 "Aku panggil teman-temanku, kami pergi kesana sekitar 20 orang dan aku jalan ke Masjid dan itu membuatku terkejut. Karena aku melihat hal-hal di dalam masjid yang tidak aku lihat di industri hiburan dan di komunitasku " kata Mutah Beale, dikutip Rabu 25 Februari 2026.

Apa yang ia saksikan di dalam masjid justru mematahkan prasangkanya. Ia melihat kebersamaan lintas ras yang belum pernah ia temui sebelumnya. 

"Aku melihat persaudaraan yang aku tidak percaya itu ada. Ketika aku masuk ke masjid, isinya orang Amerika yang didominasi orang kulit hitam, pria Afrika-Amerika. Tetapi apa yang kulihat kenapa ada orang kulit putih Amerika juga?," lanjutnya.

Keberagaman itu semakin terasa ketika ia menyaksikan jamaah dari berbagai latar belakang—Arab-Amerika, Pakistan-Amerika, hingga warga kulit putih dan kulit hitam—bercengkerama tanpa sekat. 

"Mereka semua adalah satu tubuh dan beda halnya dengan di Gereja Amerika. Jika Anda pergi ke Gereja ini maka semuanya kulit hitam, ada juga Gereja untuk kulit putih. Gereja orang Korea, Asia. Anda tidak pernah benar-benar melihat keragaman di dalam Gereja di Amerika," ungkap pria yang kini berusia 46 tahun itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut