Pakai Extended Reality dan Unreal Engine, 'Pelangi di Mars' Bawa Teknologi Baru ke Film Indonesia
- Viva/Siska Permata Sari
“Momentum Ramadan dan Lebaran menjadi waktu yang penting bagi masyarakat untuk menikmati hiburan berkualitas bersama keluarga. Film keluarga seperti Pelangi di Mars dapat menjadi pilihan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan pesan tentang ilmu pengetahuan, keberanian bermimpi, serta kepedulian terhadap masa depan Bumi,” kata Agustini.
Film ini disutradarai oleh Upie Guava yang mengembangkan ide cerita bersama produser Dendy Reynando. Menurut Upie, proyek ini lahir dari refleksi pribadi sebagai orang tua yang ingin menghadirkan cerita inspiratif bagi anak-anak Indonesia.
“Kami tumbuh dengan banyak cerita yang membangkitkan mimpi besar seperti menjadi astronot atau ilmuwan. Melalui Pelangi di Mars, kami ingin menghadirkan kisah petualangan yang dekat dengan sains dan eksplorasi ruang angkasa, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anak Indonesia terhadap ilmu pengetahuan sebagai bekal menuju Indonesia Emas,” ujar Upie.
Produser film, Dendy Reynando, menambahkan bahwa produksi film ini juga menjadi upaya memperluas pilihan film keluarga lokal yang masih terbatas di Indonesia.
“Film keluarga di Indonesia masih sangat terbatas. Kami ingin menghadirkan cerita yang bisa menjadi pengalaman menonton bersama antara orang tua dan anak. Harapannya, film ini bisa menjadi momen kebersamaan yang berkesan bagi keluarga Indonesia,” kata Dendy.
Ia juga menekankan bahwa proses produksi film melibatkan pengembangan teknologi digital oleh tim kreator lokal.
“Film ini dibuat oleh kreator Indonesia dengan pengembangan teknologi seperti virtual production, animasi berbasis game engine, hingga motion capture yang kami kembangkan bersama tim lokal. Ini menunjukkan bahwa industri kreatif Indonesia memiliki kapasitas untuk menghadirkan karya dengan standar produksi yang semakin maju,” imbuh Dendy.
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari Direktur Utama PT Produksi Film Negara, Riefian Fajarsyah. Ia menilai film tersebut menghadirkan kombinasi antara pesan edukatif bagi anak-anak dan eksperimen teknologi dalam produksi film.
“Sejak awal PFN memutuskan terlibat dalam proyek ini karena melihat potensi ceritanya yang kuat dan inspiratif. Film ini tidak hanya menghadirkan banyak pesan moral bagi anak-anak, tetapi juga memanfaatkan teknologi seperti extended reality dan virtual production yang menjadi salah satu yang pertama di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Kami berharap film ini dapat menjadi angin segar bagi perkembangan industri film nasional,” ungkap Ifan.
