Perankan Karakter Horor Paling Kompleks di 2026, Meisya Amira Sampai Belajar Bahasa Isyarat
- Mercusuar Films.
Persiapan itu berlanjut dengan proses belajar bahasa isyarat bersama seorang coach yang mendampinginya dari sesi reading hingga syuting selesai. Langkah ini penting agar ekspresi dan komunikasi Juminten tetap terasa kuat di layar meski karakter ini memiliki keterbatasan dalam berbicara.
"Aku juga belajar bahasa isyarat bersama coach yang mendampingi aku dari proses reading sampai selama syuting berlangsung. Ini menjadi bagian penting agar komunikasi dan ekspresi karakter tetap terasa," lanjutnya.
Selama proses syuting, Meisya mengakui bahwa menjaga emosi tetap hidup hanya melalui gestur, tatapan, dan tubuh menjadi tantangan paling berat.
"Pada proses syuting, tantangannya cukup besar karena aku harus memberi emosi tanpa banyak dialog. Tidak mudah untuk mengaplikasikan rasa dan emosi dalam keterbatasan tersebut, apalagi memerankan karakter tunawicara. Ada momen aku membutuhkan ruang untuk benar-benar memahami situasi dan kondisi yang terjadi di dalam adegan," jelas Meisya.
Seiring syuting berjalan, Meisya berusaha terus memposisikan dirinya sebagai Juminten agar emosi karakter tidak terputus.
"Seiring berjalannya waktu, emosi tersebut mulai terbentuk dengan sendirinya karena aku berusaha untuk terus memposisikan diri sebagai Juminten selama proses shooting. Aku bawa seluruh trauma dan latar belakang karakter itu ke dalam setiap adegan, jadi apa yang dirasakan menjadi lebih jujur. Bagiku, penting untuk tetap stay dalam karakter agar setiap emosi yang muncul bisa benar-benar terasa dan tersampaikan dengan baik," katanya.
Dimas Aditya berperan sebagai Manto, suami Juminten. Posisi Manto dalam cerita tidak mudah. Ia mencintai Juminten, tetapi juga harus menghadapi ketakutan menyaksikan perubahan drastis dalam diri istrinya.
"Cinta mengalahkan rasa takut. Bahkan rasa cinta yang besar membuat Manto rela memilih hidup bersama Juminten dan meninggalkan kemapanan hidup bersama keluarganya. Karena cinta bisa mengalahkan apa saja, bahkan ketakutan sekalipun," ujar Dimas Aditya.
Relasi Manto dan Juminten menjadi salah satu elemen emosional yang menopang film ini. Di tengah teror dan misteri, hubungan suami-istri itu memperlihatkan pertarungan antara cinta, ketakutan, dan kesetiaan.
Selain Meisya Amira dan Dimas Aditya, Juminten Edan juga dibintangi Anne J Coto sebagai Salma, Kukuh Prasetyo sebagai Marlan, Deden Bagaskara sebagai Kadir, dan Bambang Oeban sebagai Kakek Juminten. Deretan pemain lainnya meliputi Wina Marrino sebagai Farida, Sharon Jovian sebagai Saskia, Teguh Julianto sebagai Heri, Wanto Cacing sebagai Sidik, Feril Ali sebagai Manto Kecil, serta Maria Lituhayu sebagai Juminten Kecil.
