Nikita Mirzani Jadi Model Konten Rutan Pondok Bambu, Kok Bisa?
- VoxPop.co.id/Aiz Budhi
VoxPop – Kemunculan Nikita Mirzani dalam unggahan media sosial Rutan Pondok Bambu mendadak mencuri perhatian publik. Bukan karena perkembangan kasus hukumnya, melainkan karena ia tampil sebagai model dalam video yang memperkenalkan hasil karya warga binaan berupa tas rajut.
Video tersebut diunggah melalui akun Instagram resmi Rutan Pondok Bambu dan langsung mengundang beragam respons dari warganet. Banyak yang mengaku terkejut melihat Nikita menjadi bagian dari konten yang menampilkan program pembinaan kemandirian di dalam rumah tahanan.
Dalam video tersebut, Nikita terlihat mengenalkan tas rajut hasil karya warga binaan sambil menceritakan pengalamannya selama berada di Rutan Pondok Bambu.
“Nggak berasa udah lama juga di Rutan Pondok Bambu. Aku tuh udah kelamaan di Rutan Pondok Bambu, aku udah nggak pake barang-barang branded. Biasanya kalo jam segini aku tuh lagi di mall pake tas-tas bagus, sekarang nggak bisa. Tapi tenang aja, di sini di dalam rutan kita tetep masih bisa bergaya,” kata Nikita dalam video yang dikutip dari Instagram @rutanpondokbambu pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Melalui keterangan unggahan tersebut, pihak Rutan Pondok Bambu menjelaskan bahwa tas yang dikenakan Nikita merupakan hasil karya para warga binaan yang diproduksi melalui program pembinaan kemandirian dengan merek Jari Perempuan.
Pihak rutan juga menyebut Nikita turut mengikuti proses pembinaan bersama warga binaan lainnya selama menjalani masa penahanan.
"Melalui program pembinaan kemandirian, Nikita Mirzani sebagai Warga Binaan turut belajar, berproses, dan berkarya bersama warga binaan lainnya. Setiap helai benang yang dirajut menjadi bukti bahwa kesempatan untuk berkembang selalu terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha."
Dalam unggahan itu dijelaskan pula bahwa program pembinaan tersebut mendapat perhatian dan dukungan dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Daerah Khusus Jakarta bersama Direktur Teknologi Informasi dan Kerja Sama Pemasyarakatan.
Program tersebut disebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan yang produktif, kreatif, sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi warga binaan.
"Karena sebuah karya tidak diukur dari siapa yang memakainya, tetapi dari ketekunan tangan yang menciptakannya."
