Kepiting Bakau Jadi Bisnis Menggiurkan di Pulau Kei
- Lutfi Dwi/VoxPop
Rumput laut di sini, bukan hanya untuk dikonsumsi warga sendiri, tapi juga jadi komoditi pasar di luar Maluku Tenggara.
"Sering rumput laut dikirim ke Surabaya dan ke Malang. Ada yang digunakan untuk bahan baku kosmetik, makanan ringan, makanan ternak, juga untuk konsumsi hari-hari,” ujarnya.
Jika ingin dikonsumsi sebagai pengganti sayur, biasanya rumput laut ini setelah dipanen direndam terlebih dahulu selama satu malam, untuk menghilangkan kotorannya diolah sesuai selera. "Biasanya warga sini mengolah jadi urap lat".
Tiap pagi, desa ini ramai dengan kedatangan mobil yang lalu lalang untuk berburu rumput laut. Mulai pukul 6 hingga 7 pagi mereka berlomba-lomba menimbang rumput laut. "Rumput laut nya biasanya dijual di tempat penampungan. Untuk yang kering satu kilogram nya Rp15 ribu. Untuk yang basah perkilo nya Rp 5000,” ujarnya.
Hari Minggu dan hari libur besar adalah waktu yang paling ramai pembeli. Biasanya mereka beli dan dikirim ke tempat lain juga untuk produksi sirup, puding, dan makanan untuk oleh-oleh seperti permen.
"Kalau produk sini dikirim ke Surabaya. Selain budidaya rumput laut di sini juga tempat penangkaran kepiting," ujarnya.
Kepiting di desa ini juga paling banyak diburu karena ukurannya yang sangat besar. Kepiting Bakau jenis nya.
"Kalau di sini kepiting nya gurih beda dengan kepiting dari Aru yang dadanya tipis tapi besarnya sama. Karena di sana itu campuran pasir dengan rumput. Kepiting Aru rasanya asin," ujarnya.
![]()
Satu minggu kepiting hasil tangkapan satu orang warga bisa mencapai 300 kilogram beratnya. Kepiting Bakau dadanya lebih tebal, rasanya lebih enak, tak heran jika harga jual ya cukup mahal. Ukuran besar dengan berat mencapai 2kilogram bisa dijual dengan harga Rp150 ribu. Tapi ada juga kepiting ukuran sedang yang dijual dengan harga Rp75 ribuan dan yang paling kecil bisa dijual seharga Rp25 ribu.
"Banyak juga yang beli buat oleh oleh, bisa dikemas dalam kotak sampai Jakarta tetap hidup," ujarnya.
Setiap harinya, untuk mendapatkan kepiting, Siprianus dan warga lainnya meletakkan bubu dengan umpan ikan kecil di pinggir pantai. Selama satu malam biasanya nya didirikan.
