Warisan Maritim Indonesia Pukau Masyarakat Eropa
- KBRI Den Haag
Periodisasi Sejarah
Pada tahap pertama dari pintu masuk pameran, ungkap Bambang, ditampilkan berbagai hasil pameran dari masa Austronesia yang menampilkan benda-benda seni dari batu dan perunggu, hasil pertukaran diaspora dari Austronesia dan Melanesia. Bentuk-bentuk budaya ditampilkan seperti kapal, penggalan lukisan dari dinding gua, seni dari batu, nekara, moko, dan lain-lain.
Masa pre-modern yang merupakan kelanjutan ekspansi budaya maritim merupakan hasil interaksi dengan datangnya pedagang dari India. Pada masa ini terjadi akulturasi budaya. Kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti Kutai, Tarumanegara, Kalingga, Sriwijaya, Mataram menjadi bagian dari akulturasi pada periode ini. Benda budaya yang ditampilkan dari periode ini berupa kapal, patung, musik, peta-peta kuno, prasasti dari kerajaan-kerajaan tersebut.
![]()
Foto: KBRI Den Haag
Masa early modern period yang dipengaruhi oleh interaksi dengan pedagang dari China menampilkan berbagai bentuk budaya seperti keramik, sutra, porselen, dan arsitektur. Lebih ke dalam area pameran ditampilkan masa early modern period yang dipengaruhi oleh interaksi dengan bangsa-bangsa Eropa lewat jalur perdagangan bumbu.
Kota-kota utama di Indonesia yang menjadi pusat yang merekam interaksi ini yaitu Aceh, Banten, Banjarmasin, Ternate, Tidore, dan Palembang menjadi tempat-tempat yang banyak ditemukan warisan sejarah maritim.
Sebagai negara kepulauan dengan 17.000 pulau dan 81.000 kilometer panjang garis pantai, pameran maritim ini menjadi sebuah kesempatan penting untuk menampilkan identitas bangsa Indonesia yang penting dan lama terlupakan. Itu sebabnya, menurut Bambang, "Keberadaan kapal Padewakang juga menjadi daya tarik tersendiri pada pameran ini karena nilai sejarah dan keunikan kapal ini menjadi suatu hal yang baru di Eropa yang telah mengambil bagian dalam pembentukan sejarah maritim Indonesia".
Pembukaan pameran itu dihadiri sejumlah pejabat dan akademisi terkemuka, seperti Wali Kota Liege, Willy Demeyer, dan dihadiri para narasumber dari pihak Indonesia, yaitu Dra. Intan Mardiana, mantan Direktur Museum Nasional, yang bertindak selaku kurator dari pameran ini, dan Singgih Tri Sulistiono, selaku peneliti sejarah maritim Indonesia dari Universitas Diponegoro Semarang.
Sementara itu, dari pihak Belgia hadir Dirk Vermaelen, koordinator kurator Europalia International, Pierre Yves Manguin, konsultan peneliti arkeologi dari Ecole Francaise d’extreme Orient.
