- Twitter.com/@realDonaldTrump
Kebiasaan itu tak berhenti hingga sekarang. Washington Post memberitakan, jika digabungkan sejak kampanye hingga menjadi presiden, hingga 30 Oktober 2018, atau 649 hari ia menjabat, ia sudah melontarkan 6.420 kata-kata ngawur.
"Merujuk database The Fact Checker's yang melakukan analisa, kategorisasi, dan menelusuri setiap kata yang dilontarkan oleh presiden, banjir informasi keliru terjadi setelah Trump menjabat sebagai presiden. Meski demikian, ia tetap mengulangi kesalahan yang sama setiap melakukan wawancara di daerah," tulis koran tersebut dalam terbitan tanggal 2 November 2018.
Taktik Kata Trump
Salah satu kata paling tenar yang dilontarkan Trump adalah sebutan 'crook' atau penipu yang ia sematkan untuk Hillary. 'Crook' menjadi kata yang efektif untuk membangun pandangan umum di kalangan pemilih bahwa Hillary Clinton adalah seseorang yang tak dapat dipercaya.
Apalagi, saat itu kasus skandal email Hillary juga sedang gencar jadi pemberitaan, dan informasi bagaimana trauma Hillary soal Benghazi, Irak, ketika ia menjadi Menlu AS juga masih hangat beredar. Semakin gencar diberitakan, semakin publik percaya, bahwa Hillary adalah penipu dan ia mengambil keputusan yang salah soal Irak.
Memberi nama julukan untuk lawan politiknya tak hanya dilakukan ketika Trump bersaing dengan Hillary. Tapi cara ini sudah terbukti efektif sejak Trump masih bersaing dengan sesama rekannya dari Partai Republik, Marco Rubio, Jeb Bush, dan Ted Cruz.
Trump memberi mereka julukan khusus. Ia menyebut Marco dengan Little Marco, menyebut Ted dengan Lyin Ted, dan menyebut Bush dengan Jeb 'low energy' Bush. Kata itu berhasil melekat di benak publik.
Meski Marco lebih cemerlang, ia kandas, dan Trump terus melaju. Marco sempat mencoba membalas dengan menyebut Trump sebagai Big Donald, sayangnya ia memilih kata yang tak tepat. Sebab, publik malah menganggap kata-kata tersebut sebagai pujian untuk mengakui kebesaran Trump.
George P Lakoff dan Gil Duran menyampaikan opini mereka soal Trump. Melalui media The Guardian, kedua orang ini memberi penjelasan mengapa Trump seperti tak peduli dengan kata-kata ngawur yang ia lontarkan. Menurut mereka, Trump berhasil menjadikan kata-kata sebagai senjata dan ia berhasil memenangkan pertarungan linguistik.
