SOROT 380

Peta Gerakan ISIS di Indonesia

Sumber :
  • REUTERS/Yaser Al-Khodor

VoxPop.co.id - Jakarta under attack! Kabar itu menyeruak cepat, menyebar di lini massa. Merusak ketenangan pagi warga Jakarta yang dikejutkan aksi bom bunuh diri di gerai kopi Starbucks, Gedung Cakrawala, dan Pos Polisi di Jalan MH Thamrin pada Kamis pagi 14 Januari 2016.

Selama 22 menit, sejak pukul 10.38 WIB, empat pria menebar maut di jantung ibu kota. Tak hanya bom, bau mesiu ikut tercium akibat tembakan membabi buta dari pistol Afif alias Sunakim dan Muhammad Ali yang menyeruak dari kerumunan warga. Puluhan orang tumbang, dan delapan tewas. Empat di antaranya si penyebar teror.

Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengaku sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sebelum muncul pengakuan itu, sejumlah kalangan sudah terlebih dahulu meyakini serangan dilakukan kelompok itu mengingat pola aksi mirip dengan teror di Paris, Prancis pada 13 November 2015 dan Istanbul, Turki.

Kala itu, sebagian warga di pusat mode dunia itu tengah menikmati aktivitas rutin. Hampir sama dengan warga Jakarta, tak ada yang menyadari datangnya teror.

img_title Satu Terduga Teroris di Batam Dibebaskan Polisi
Polisi menyisir lokasi ledakan bom Sarinah
Polisi bersenjata lengkap menyisir lokasi ledakan di gedung Djakarta Theater di kawasan Sarinah, Jakarta, pasca ledakan bom.
img_title Hingga Hari Ini, Sudah 22 Orang Ditahan Terkait Bom Thamrin


Suasana menjadi mencekam usai terjadi serangan bersenjata, aksi penyanderaan, dan bom bunuh diri di enam lokasi, yakni gedung konser Bataclan, restoran Le Pitet Cambodge, bar Le Carillon, bar La Belle Equipe, dan area sekitar Stadion Stade de France. Setidaknya, 129 orang tewas, dan 352 orang luka-luka dengan 99 di antaranya kritis.

Sementara itu, di wilayah kota tua Sultanahmet, Istanbul Turki, sebuah bom bunuh diri meledak pada Selasa, 12 Januari 2016. Sedikitnya, 11 orang tewas dalam insiden tersebut.

Dari serangan dua negara itu, ada titik kesamaan dengan model teror di Indonesia, khususnya teror Paris. Diawali dengan bom bunuh diri, lalu diikuti aksi penembakan.

Sedangkan di Istanbul, titik kesamaan terletak pada ledakan bom bunuh diri meski tanpa diikuti aksi penembakan.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridwan Habib mengakui adanya kemiripan antara teror di Jakarta dengan Paris. Salah satunya dari sisi serangan yang mengombinasikan bom dan senjata api.

Namun karena akses mendapatkan bahan bom di Indonesia cukup sulit, maka mereka hanya menggunakan pupuk urea dan senjata api rakitan yang diduga sisa konflik Poso atau dari  Mindanao, Filipina. Alhasil kekuatannya pun tidak sedahsyat aksi di Turki. Meski begitu aksi ini sudah cukup menunjukkan kepada publik jati diri ISIS di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut