- VoxPop.co.id/ Diza Liane Sahputri
Berbeda dengan kebanyakan kelompok lawak masa itu yang mengandalkan gaya lugu, ‘ndeso’, dan merepresentasikan masyarakat kelas bawah, Obrolan Santai di Warung Kopi justru mengambil tema berat, yaitu sosial dan politik. Sasarannya, tentu saja pendengar masyarakat menengah atas.
Situasi politik tahun 1970-an yang sedang hangat dan masalah sosial yang sedang jadi pembicaraan, menjadi materi lawakan mereka. Konsep ini berhasil, lawakan mereka mendapat perhatian publik.
Hari demi hari pendengar lawakan ini bertambah banyak. Saking ngetop dan populernya, nyaris setiap mereka siaran, aneka penganan seperti pisang goreng, klepon, dan aneka kue basah yang dikirim penggemar akan memenuhi studio Prambors.
![]()
Film Warkop DKI Reborn, dibintangi Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro.
Setelah setahun berjalan bertiga, pada 1974, Kasino, Nanu, dan Rudi mengajak Wahyu Sardono alias Dono yang juga mahasiswa UI, bergabung. Kehadiran Dono meramaikan ocehan di Warung Kopi Prambors.
Dan orang terakhir yang bergabung dalam kelompok ini adalah Indrodjojo Kusumonegoro alias Indro. Ia direkrut tahun 1976. Indro bukan mahasiswa UI, namun kuliah di Universitas Pancasila. Kampus ini berlokasi tak jauh dari Radio Prambors.
Dengan lima personel, keriuhan dan lawakan di Warung Kopi Prambors makin semarak. Tapi, meski sudah berjaya di radio bukan berarti seluruh personel mampu berhadapan dengan publik secara terbuka.
Rudi Bagil menjadi orang pertama yang mundur setiap ada undangan manggung. Penyebabnya, ia tak bisa berhadapan langsung dengan audiensi dan tak mampu menguasai demam panggung. Padahal undangan mengisi acara di panggung-panggung semakin hari semakin bertambah, termasuk mengisi acara di televisi.
“Saya ingat, tahun 1977 kami ditawari mengisi acara di televisi, TVRI dan kami menerimanya,” ujar Indro kepada VoxPop.co.id, Jumat, 4 Agustus 2017.
Perlahan, Rudi Bagil menghilang. Warkop DKI tinggal berempat. Setelah rutin mengisi acara di televisi dan mengeluarkan rekaman, datang tawaran bermain film. Namun mereka tak langsung menerimanya.
“Kami tak langsung menerima tawaran main film. Sebenarnya karena bingung dan tak percaya diri. Masa, hanya bercandaan saja bisa jadi duit?” tutur Indro.
