- REUTERS/Edgar Su
Selanjutnya, Gaya Komunikasi
Gaya Komunikasi
Di sisi lain, Generasi Z atau Kids Zaman Now pun kerap dianggap tak beretika, baik dalam bertindak maupun bercakap, di dunia nyata maupun virtual. Sesmen Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pribudiarta Nur Sitepu, mengemukakan idenya tentang cara berpendapat Generasi Z yang unik hingga kerap mengundang konflik antargenerasi. Namun, dia mengatakan, perlu saling memahami antargenerasi untuk memperkecil gesekan itu.
"Asah asih asuh Ki Hajar Dewantoro harus dipahami guru, orangtua, dosen. Berikan nasihat pada mereka, bisa apresiasi apa yang mereka lakukan dan beritahu mereka jika keluar dari batas. Agar jangan timbul konflik. Aturan belum tentu bisa ubah perilaku, ubah perilaku dengan komunikasi," katanya.
Omar Daniel Assegaf, pesinetron yang lahir di tahun 1995, memberi pendapatnya. Baginya yang jadi bagian Generasi Z, stigma tak beretika itu agak unik.
"Iya ya iya tapi enggak ya enggak. Tergantung orangnya karena banyak Generasi Z yang masih beretika, memegang budaya dan nilai sopan santun tapi ada juga yang sengaja atau enggak merasa harus ikutin budaya modern. Tergantung orangnya. Saya juga enggak menutup mata bahwa saya alami mereka yang enggak beretika, nge-treat orang lain jelek karena masing-masing punya ego sendiri," kata Omar.
Staf Ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter, Arief Budhiman pun melihatnya dengan kacamata yang lebih positif. Arief menjelaskan, jika ada seseorang atau beberapa yang buruk bukan berarti generasinya yang salah. Hal itu bisa dilihat dari personal, ditelusuri bagaimana orangtuanya, kehidupan sosial, dan sebagainya. Orangtua harus tetap memenuhi kewajibannya untuk mendampingi dan menanamkan norma-norma sosial dan kultur Indonesia.
Pertama, religius, bagaimana hubungan anak dengan Sang Pencipta, alam semesta dan sesama, nah di situ apa kemudian saling menghormati, respect dengan manusia yang lain, menghargai keyakinan lain. Kedua, nasionalis, seorang anak harus bangga terhadap bangsa Indonesia, misal pakai busana dalam negeri, batik, dan lainnya. Ketiga mandiri, kerja keras, ulet, sehingga ada daya saing. Keempat gotong royong, manusia itu harus saling memberikan dukungan. Kelima integritas, terkait tanggung jawab kejujuran, kepercayaan diri. "Jadi lima, ini adalah nilai-nilai utama karakter, harus jadi referensi anak Indonesia," ia menerangkan.
