Banyuwangi, Contoh Sukses Implementasi Go Digital
- U-Report
Dengan pola serangan digital, wisman atau wisnus yang landing di Bali, bisa dibelokkan ke Banyuwangi. Lama-lama, aksesnya makin bagus. Amenitasnya semakin kuat. Atraksinya juga semakin variatif. Dari pantai yang bagus, yang cocok untuk surfing, yang bagus untuk snorkeling diving, yang pasir merah, pasir putih, semuanya laku dijual.
Gerakan Go Digital yang dilaunching Menpar Arief Yahya saat Rakornas III Pariwisata 2016 pun jadi smooth diimplementasikan. Koneksi pusat dan daerah tak lagi sulit. Tidak ribet. Semuanya mudah lantaran iklim kerja Banyuwangi sudah familiar dengan digital.
“Setelah launching Go Digital kami langsung kerja, bergerak, berkoordinasi kemana-mana. Yang terdekat, kami akan menuntaskan pemasangan jaringan ke semua desa,” timpal MY Bramuda, Kadispar Banyuwangi.
Sekarang, sudah ada 24 desa yang dijadikan pilot project. Hingga akhir tahun nanti, Bram membidik 41 desa yang tersambung dengan jaringan fiber optic. “Kami bikin jadwal per tanggal, per bulan untuk melihat perkembangannya. Yang sudah tersambung, langsung kami promosikan potensi wisata daerahnya lewat garapan video digital,” katanya.
Upaya lainnya, memperkuat pemasaran dengan banyuwangimall.com . Inilah market place untuk pemasaran produk masyarakat ke pasar global. Sekitar 600-an pengusaha mikro sudah menikmati pasar baru mereka lewat internet. Digitalisasi informasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi membantu pelaku usaha mikro di Banyuwangi yang berada di ujung Timur Jawa menembus keterisolasian pasar.
Manfaatnya pun langsung menyentuh akar rumput. Supanggih misalnya. Perajin makanan kecil di Banyuwangi itu mengaku sangat terbantu dengan pemasaran berbasis digital itu. ”Dulu saat tak kenal internet, saya mengawali dagang dengan berkeliling kampung karena tak sanggup sewa tempat untuk menempatkan dagangan. Kini tak perlu lagi sewa tempat, saya sudah bisa berjualan hingga ke Surabaya dan Bali,” kata Supanggih.
Terbukanya pasar online juga dinikmati pengusaha mikro lainnya. Suradi (40), perajin manik-manik dari Desa Kabat, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, itu, kini menjadi penyuplai toko kerajinan di Yogyakarta dan Bali. Jika sebelumnya hanya mendapatkan keuntungan Rp1.000 per perhiasan yang diproduksi, kini ia mendapatkan keuntungan dua kali lipat karena langsung berhubungan dengan pembeli lewat jaringan online. “Pasarnya tambah luas, untungnya dua kali lipat,” ujarnya.
