Kunjungan Menpar ke Markas UNWTO di Madrid Spanyol (1)
Menpar Arief pun melaporkan 3 poin komitmen yang pernah disarankan UNWTO saat kunjungan setahun silam, 4 Desember 2015. Yakni soal Visa Free, Sustainable Tourism Observatory, dan Story Telling dalam mengembangkan destinasi pariwisata.
"Semua sudah kami jalankan dengan baik, untuk mengejar target double," ujar Arief Yahya mengawali presentasinya.
Taleb Rifai pun langsung memotong presentasi di meeting room yang sama dengan tahun lalu itu. "Target double? Dari 9,3 jt ke 20 jt? Itu target yang sangat ambisius!" kata Sekjen Taleb Rifai. Kalimat itu persis mengulang statemen yang sama tahun silam. "Ini adalah target Presiden Joko Widodo, dan tidak banyak pilihan, kecuali sukses dan sukses!" jawab Arief Yahya optimis.
Hampir semua tatapan mata tertuju ke Arief Yahya. Beberapa detik terpukau, tak ada suara. Arief Yahya sedikit menggeser kursinya, agar sedikit rileks. "Bagaimana progresnya?" tanya Taleb Rifai, memecah kebekuan. "On target! Sampai saat ini!" kata Arief.
Lama Taleb Rifai tertegun. Lalu dengan cepat dia bertanya kepada Menpar Arief, "Tahu kenapa on target? Kenapa sukses sampai saat ini?" Giliran Arief Yahya yang lama dibuat penasaran, "Karena apa Mr Taleb?" Dan jawaban Taleb Rifai pun mengejutkan: "Karena Anda Menteri Pariwisatanya!"
Sontak, dialog itu pun diakhiri dengan tertawa. Arief pun menjelaskan soal tiga rekomendasi yang diminta UNWTO itu. Pertama, Visa Free Facilitation, atau Bebas Visa Kunjungan (BVK) dari 25 negara menjadi 169 negara.
"Dampaknya signifikan, misalnya Inggris naik pesat, ternyata bukan hanya dari Negara Inggris di Eropa. Tapi juga dari Singapore, Kualalumpur, Hongkong dan sekitarnya, karena mereka tidak perlu sulit sulit mengurus Visa," jelas Arief.
Wisman yang datang dari negara-negara anggota Non-ASEAN yang tumbuh 2 digit persentase, seperti dari Mesir (61,10%); Bahrain (39,90%), India (30,64%), UK (28,22%), Jerman (22,77%), Rusia (22,56%), Australia (19,56%), Cina ( 19,53%), Perancis (19,04%), dan Amerika Serikat (17,74%).
Kedua, soal Standar Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan yang berujung pada tiga daerah yang sudah diakui UNWTO, menjadi Sustainable Tourism Observatory (STO). Tiga daerah itu adalah Pangandaran Jawa Barat bekerjasama dengan ITB Bandung, Kulonprogo dengan UGM dan Lombok Barat dengan Universitas Mataram NTB.
