48 Ilmuwan Diaspora Hadir Ikuti Simposium Cendekia Kelas Dunia 2018
Tahun ini merupakan kali ketiga Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti menyelenggarakan kegiatan SCKD. Sebelumnya, program serupa telah dilaksanakan pada tahun 2016 dengan nama Visiting World Class Professor. Kemudian pada tahun 2017 berubah menjadi Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) hingga saat ini. Ilmuwan diaspora yang dihadirkan pun tidak serta-merta orang yang sama. Bahkan, kali ini banyak wajah baru yang diberi kesempatan mengikuti SCKD Tahun 2018.
"Banyak ilmuwan diaspora yang hadir adalah mereka yang masih muda. Kendati demikian, prestasi dan sepak terjangnya sudah luar biasa, bahkan diakui oleh dunia. Para anak muda inilah yang memiliki kesempatan panjang untuk membawa Indonesia ke puncak ilmu pengetahuan dunia," imbuh Dirjen Ghufron.
Para ilmuwan diaspora yang terpilih sudah memiliki jabatan akademik minimalassistantprofessordi institusinya. Tercatat, ada tujuh orang assistant professor, 14 orang associateprofessor, 10 orang profesor, dan sisanya merupakan senior lectureryang telah menjadi academic leader, seperti dekan atau kepala pusat riset, serta ada pula yang menjadi peneliti profesional. Sedangkan dari latar belakang bidang keahlian cukup beragam, dari mulai kedokteran, biologi molekuler, energi, teknik kimia, teknik elektro, farmasi, tata kota, pangan, kemaritiman, dan masih banyak lagi, termasuk bidang ilmu sosial.
Berdasarkan evaluasi dari pelaksanaan kegiatan sebelumnya, SCKD telah memberikan impak positif, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kolaborasi antara ilmuwan diaspora dengan akademisi dalam negeri telah menghasilkan puluhan joint researchdan joint publicationdi jurnal-jurnal internasional bereputasi. Tak hanya itu, sejumlah ilmuwan diaspora juga memberi kesempatan untuk mobilisasi dosen Indonesia ke perguruan tinggi kelas dunia. Di sisi lain, terbangun pula jembatan komunikasi yang berkelanjutan antara para ilmuwan diaspora dengan akademisi Indonesia.
"Hubungan dan jaringan itulah yang terus dibina dan dipelihara. Segenap bangsa Indonesia harus merapatkan barisan, menyamakan derap langkah untuk menghadapi persaingan sehingga mewujudkan Indonesia yang lebih cerah di masa depan,”tukas Dirjen Ghufron.
