Jenderal TNI Wiranto: Dulu SBY Masih Bisa Saya Perintah
- Youtube
- Youtube
"Tetapi yang ketiga, saya tanya kepada staf saya namanya Mayor Jenderal Zaky Anwar Makarim, 'Kalau saya mengambil alih, berarti saya akan membuat pemerintahan berjalan wajar dan kemudian kita rebut Gedung DPR/MPR. Berapa korban mahasiswa? Ada perhitungan korban di ilmu militer. Mayjen Zaky Makarim menghitung dan menjawab, 'Paling tidak 200 atau 250 mahasiswa mati Pak'," katanya.
Wiranto seketika tersadar bahwa tidak mungkin mengorbankan nyawa ratusan mahasiswa hanya demi kekuasaan. Di sini juga letak kisah Wiranto yang saat itu menjadi atasan Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih dikenal dengan SBY, yang di kemudian hari menjadi Presiden RI ke-6.
"Dan saya cepat berpikir bahwa, tidak mungkin saya mengorbankan adik-adik saya, anak-anak saya, hanya demi sebuah kekuasaan. Dan itu lah yang membuat saya memutuskan untuk tidak kita ambil. Besok kita serahkan kepada Wakil Presiden," ujar Wiranto lagi.
"Yang bertanya terakhir waktu itu Pak SBY. Letnan Jenderal SBY waktu itu Kepala Staf Sosial Politik saya. Beliau nanya, 'Apakah Bapak akan ambil alih besok?' Saya jawab 'Tidak, kita serahkan kepada Wakil Presiden'. Kita buat pernyataan politik, catat, beliau mencatat waktu itu. Masih bisa saya perintah waktu itu, sekarang enggak bisa," katanya.
Pada akhirnya, setelah Presiden Soeharto lengeser pemerintahan Republik Indonesia dilanjutkan oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden RI.
