Bersaing dengan Mobil Listrik, LCGC Disebut Harus Cari Pasar Baru

VoxPop Otomotif: Honda Brio Satya di IIMS 2023
Sumber :
  • VoxPop/Yunisa Herawati

Jakarta, VoxPop – Kehadiran mobil listrik dengan harga semakin terjangkau mulai mengubah peta persaingan industri otomotif nasional. Jika sebelumnya kendaraan listrik identik dengan banderol mahal, kini sejumlah model sudah dipasarkan di kisaran Rp 200 jutaan.

img_title Sebelum Beli Mobil Listrik, Wajib Coba Mobil yang Satu Ini di GIIAS 2026

Kondisi tersebut dinilai mulai memberi tekanan pada segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang selama ini menjadi pilihan utama konsumen entry level.

Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, mengatakan bahwa tantangan utama mobil listrik pada awalnya adalah harga dan ketersediaan infrastruktur pengisian daya. Namun, dari sisi harga, hambatan tersebut kini mulai teratasi.

img_title Terpopuler: Deretan Motor Royal Enfield, Harga Mobil Listrik GAC Turun, hingga Jurus VinFast Bikin Tenang

“Sekarang mobil listrik Rp 200 jutaan sudah ada. Itu bagus buat masyarakat karena pilihannya jadi banyak, merek banyak, tipe mobilnya juga semakin beragam,” ujarnya belum lama ini, dikutip VoxPop Otomotif Rabu 28 Januari 2026.

BYD Atto 1

Photo :
  • Yunisa Herawati
img_title Chery Q Dijual Mulai Rp 239,9 Juta Tapi Belinya Gak Bisa Sembarangan

Dengan harga yang semakin kompetitif, mobil listrik kini mulai bersinggungan langsung dengan segmen LCGC. Dari sisi teknologi, kendaraan listrik menawarkan efisiensi biaya operasional serta emisi yang lebih rendah, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen, khususnya di wilayah perkotaan.

Meski demikian, Jongkie menilai segmen LCGC belum sepenuhnya kehilangan peran di pasar otomotif Indonesia. Faktor geografis dan kesiapan infrastruktur menjadi pembeda utama. Indonesia yang memiliki wilayah luas membuat adopsi kendaraan listrik belum bisa dilakukan secara merata.

“Indonesia itu luas. Tidak semua daerah siap dengan kendaraan listrik, terutama di daerah-daerah terpencil. Di situ LCGC masih punya pasar,” ujarnya.

Menurut Jongkie, kondisi ini menuntut produsen LCGC untuk lebih adaptif dan jeli membaca kebutuhan pasar. Persaingan dengan mobil listrik murah tak terelakkan, terutama di kota besar. Karena itu, LCGC didorong untuk mencari ceruk pasar yang lebih spesifik, termasuk wilayah dengan keterbatasan infrastruktur pengisian daya.

“Ini persaingan usaha. LCGC harus punya ide dan harus cari pasar. Tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan lama,” tegas Jongkie.

Di sisi lain, ia juga menyoroti bahwa percepatan elektrifikasi kendaraan harus diiringi dengan kesiapan regulasi dan ekosistem pendukung, termasuk pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik di masa depan. Isu ini menjadi perhatian penting seiring meningkatnya populasi kendaraan elektrifikasi di Tanah Air.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut