Pembeli Mobil Kredit Disebut Paling Rentan Saat Rupiah Melemah

Potret pameran mobil GIIAS.
Sumber :
  • U-Report

Jakarta, VoxPop - Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.500 per dolar AS mulai memunculkan kekhawatiran baru di industri otomotif nasional. Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, tekanan kurs dinilai bisa paling cepat dirasakan oleh konsumen pembeli mobil secara kredit.

img_title Mobil Elektrifikasi Toyota Bakal Makin "Indonesia"

Ekonom sekaligus Chief Economist Bank Permata, Joshua Pardede, menilai dampak pelemahan rupiah memang tidak langsung membuat penjualan mobil anjlok. Namun, jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu cukup lama, tekanan biaya pada akhirnya akan masuk ke harga jual kendaraan dan cicilan konsumen.

“Dampaknya terhadap penjualan mobil bisa besar, tetapi belum tentu langsung membuat penjualan anjlok secara mendadak,” ujar Joshua saat dihubungi VoxPop, Rabu 13 Mei 2026.

img_title 55 Tahun Toyota Ada di Indonesia: Dampingi Kebutuhan Pelanggan lewat Land Cruiser Family dan bZ4X Touring di GIIAS 2026

Menurut dia, produsen dan dealer saat ini masih memiliki sejumlah ruang untuk menahan kenaikan harga. Mulai dari memanfaatkan stok lama, memberi diskon, promosi, hingga mengurangi margin keuntungan sementara waktu agar pasar tetap bergerak.

Namun strategi tersebut tidak bisa berlangsung terus-menerus apabila nilai tukar rupiah bertahan lemah selama beberapa bulan.

img_title Honda Cuma Jual 100 Unit Super-One di Indonesia

“Bila rupiah bertahan lemah selama beberapa bulan, kenaikan biaya pada akhirnya akan masuk ke harga jual atau cicilan,” kata Joshua.

Ia menjelaskan, pasar otomotif Indonesia masih sangat sensitif terhadap perubahan uang muka, bunga kredit, dan besaran cicilan bulanan. Sebab sebagian besar pembelian mobil nasional masih mengandalkan skema pembiayaan atau kredit kendaraan bermotor.

Kondisi ini membuat kelompok kelas menengah dan pembeli mobil pertama menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

“Jika pelemahan rupiah memaksa kenaikan harga mobil beberapa juta hingga belasan juta rupiah, segmen pembeli pertama, kelas menengah, mobil murah, dan pembelian berbasis kredit akan paling cepat terdampak,” ujarnya.

Joshua menilai tekanan terhadap daya beli saat ini datang di waktu yang kurang ideal bagi industri otomotif. Penjualan kendaraan bermotor disebut belum benar-benar kuat, sementara konsumsi masyarakat juga mulai melambat.

Data penjualan ritel nasional pada April 2026 tercatat masih mengalami kontraksi tahunan sebesar 1,9 persen. Di sisi lain, data GAIKINDO Januari hingga April 2026 menunjukkan pasar otomotif masih bergerak, tetapi belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga besar tanpa risiko perlambatan permintaan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut