Bukan Karena Mobilnya Tak Laku, Toyota Ungkap Biang Kerok Penjualan LCGC Melemah
- Dok: TAM
Tangerang Selatan, VoxPop – Segmen mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) masih menjadi salah satu penopang pasar otomotif nasional. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penjualannya mulai menunjukkan perlambatan seiring melemahnya daya beli masyarakat, khususnya kalangan kelas menengah.
Kondisi tersebut dinilai bukan karena minat terhadap mobil murah menurun, melainkan dipengaruhi situasi ekonomi yang membuat banyak calon konsumen menunda pembelian kendaraan pertama mereka. Padahal, segmen LCGC selama ini identik dengan pembeli yang baru pertama kali memiliki mobil.
Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Jap Ernando Demily, mengatakan pasar LCGC sebenarnya masih memiliki prospek yang cukup besar di Indonesia. Menurutnya, program tersebut sejak awal memang dirancang untuk memperluas akses masyarakat terhadap kepemilikan mobil.
"Orang yang mampu beli mobil adalah yang middle class. Jadi pada saat middle class-nya tertekan, maka first time buyer-nya juga akan tertekan," ujarnya, dikutip VoxPop Otomotif Rabu 5 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, ketika kebijakan LCGC mulai diterapkan, pasar otomotif nasional mengalami pertumbuhan. Kehadiran mobil dengan harga lebih terjangkau membuat semakin banyak masyarakat yang sebelumnya hanya menggunakan sepeda motor beralih menjadi pemilik mobil.
Selain memberikan akses kepemilikan kendaraan, program LCGC juga memiliki tujuan lain, yakni mendorong efisiensi konsumsi bahan bakar dan menekan emisi gas buang. Di sisi industri, kendaraan LCGC juga dikembangkan dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi sehingga mampu menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan rantai pasok otomotif di dalam negeri.
Meski begitu, Jap mengakui dalam satu hingga dua tahun terakhir segmen LCGC menghadapi tantangan. Melemahnya daya beli masyarakat membuat kelompok konsumen yang biasanya membeli mobil pertama menjadi lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk pembelian kendaraan.
Karena itu, menurutnya, pemulihan pasar otomotif tidak hanya bergantung pada peluncuran produk baru atau program penjualan. Perbaikan kondisi ekonomi nasional juga menjadi faktor penting agar daya beli masyarakat kembali meningkat.
Ia berharap berbagai kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dapat memperkuat kembali kelas menengah Indonesia. Dengan meningkatnya daya beli kelompok tersebut, peluang masyarakat untuk memiliki mobil pertama juga akan semakin besar.
Di sisi lain, ia menilai pasar mobil nasional masih memiliki ruang untuk berkembang. Rasio kepemilikan kendaraan atau motorization ratio di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan sejumlah negara lain, sehingga potensi pertumbuhan pasar otomotif masih terbuka dalam jangka panjang.
Meski mengalami tekanan, Jap meyakini segmen LCGC belum kehilangan daya tariknya. Kontribusinya terhadap pasar mobil nasional masih berada di kisaran dua digit, sehingga tetap menjadi salah satu segmen penting bagi industri otomotif Indonesia.
