Awas Candu Digital Pornografi

Ilustrasi pornografi.
Sumber :
  • REUTERS/Stoyan Nenov

"Untuk mencapai itu kamu akan memberikan resolusi terbaik yang mencapai batas penglihatan seseorang, dengan menambahkan integrasi sentuhan, ciuman, pelukan dan lainnya."

img_title Pernah Nonton Porno di Internet? Bersiaplah Data Anda Bocor

Perangkat VR tersebut memiliki tampilan 3D, mampu berputar 360 derajat dan memungkinkan penggunanya dapat bertindak secara real time.

Boneka seks produksi China
 

img_title Sampai Juli 2016, 760 Ribu Situs Pornografi Diblokir Kominfo

Benarkah seseorang bisa kecanduan pornografi?

img_title Hati-hati, Sering Nonton Porno Online Bikin Disfungsi Ereksi

Berkembangnya teknologi yang diterapkan pada pornografi membuat siapa saja dapat menikmati pornografi dengan mudah, nyaman, seru, dan intens. Tentu saja hal itu mengkhawatirkan.

Banyak ahli berpendapat bahwa paparan pornografi yang terlalu sering tentu berdampak pada psikologi seseorang. Bahkan beberapa di antaranya menyebut, terpapar pornografi bisa sebabkan kecanduan. Benarkah?

Editor psikologi laman Health, Dr. Gail Saltz menyebut bahwa kecanduan porno tidak selangka yang kita pikirkan. Tidak seperti kecanduan seks, yang membutuhkan pasangan, porno mudah diakses hanya dengan koneksi Wi-Fi.

Dr Saltz menunjukkan bahwa kecanduan pornografi adalah perilaku (atau psikologis) kecanduan, yang tidak sama dengan kecanduan fisiologis terhadap obat-obatan atau alkohol.

"Dengan perilaku kecanduan, Anda tidak akan memiliki gejala penarikan fisik, yang merupakan ciri khas dari kecanduan fisiologis," jelasnya. 

Ilustrasi membuka aplikasi di gadget atau gawai.

Iia menyebut bahwa 'ada bukti' yang menunjukkan (perilaku kecanduan) sama-sama melibatkan sistem dopamin reward di otak, dan ketika mencoba untuk berhenti, itu akan dipersulit oleh zat kimia yang ada di otak.

Sementara itu, dilansir laman Foxnews, psikoterapis dan konselor seksualitas Ian Kerner, PhD mengatakan hal serupa bahwa tidak semua ahli sepakat bahwa kecanduan pornografi dapat diklasifikasikan sebagai kecanduan dalam arti sebenarnya dari kata tersebut.

"Saya berhati-hati dengan menggunakan kata-kata seperti 'kecanduan' dan 'penyakit' dalam hal perilaku out-of-control," ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kebiasaan 'pornografi obsesif' bisa menjadi tanda dari masalah kesehatan mental lainnya. Ia menunjukkan bahwa seorang yang dinilai sebagai pecandu pornografi mengatakan akan menderita kecemasan ketika kecanduannya mulai.

Selain itu sebuah kegemaran mengakses pornografi juga bisa menunjukkan bahwa seseorang cenderung permasalahan psikologi lain.

"Seseorang yang mengembangkan kecanduan pornografi mungkin memiliki hal-hal lain yang membuat mereka sangat terobsesi," katanya. "Ketika seseorang yang memiliki kepribadian obsesif dalam suasana hati yang negatif, mereka dapat mencari stimulasi untuk merasa lebih baik."

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut