Kejutan Yudi Latif dan Polemik BPIP
- VoxPop/Agus Rahmat
“Setelah setahun bekerja, seluruh personel di jajaran Dewan Pengarah dan Pelaksana belum mendapatkan hak keuangan. Mengapa? Karena menunggu Perpres tentang hak keuangan ditandatangani Presiden. Perpres tentang hal ini tak kunjung keluar, barangkali karena adanya pikiran yang berkembang di rapat- rapat Dewan Pengarah untuk mengubah bentuk kelembagaan dari Unit Kerja Presiden menjadi badan tersendiri,” lanjut Yudi Latif.
Ihwal pengunduran diri Yudi makin terkonfrimasi melalui Juru Bicara Presiden Jokowi, Johan Budi Sapto Pribowo. Presiden sudah mengetahui hengkangnya Yudi dari lembaga itu. Namun Jokowi belum memberikan keputusan soal calon penggantinya. Selain hal yang dijelaskan Yudi melalui Facebook, Johan Budi mengatakan bahwa soal keluarga juga menjadi pertimbangan Yudi memilih mundur.
“Respons belum bagaimana pengganti. Tapi mengundurkan diri hak semua orang," kata Johan Budi.
Moralis
Pengunduran diri Yudi Latif ditanggapi oleh banyak pihak. Tak sedikit yang mengapresiasinya. Pengamat Hukum Tata Negara Refly Harun juga langsung bercuit soal mundurnya Yudi. Menurut Refly, sosok moralis seperti Yudi Latif memang seharusnya tak berlama-lama di BPIP.
Tak hanya itu, Refly menilai bahwa badan sejenis memang kurang relevan dan tak mendesak diperlukan lantaran pengamalan Pancasila sebaiknya disosialisasikan dari masyarakat atau bottom up bukan harus diarahkan dari
wewenang yang berada di atas atau top down.
“Tidak top down dari negara. Negara cukup memberi contoh yang baik. Salut Yudi," kata Refly melalui Twitter sebagaimana dilansir VoxPop, Jumat 8 Juni 2018.
Di BPIP, Yudi menjabat sebagai Ketua Pelaksana didampingi oleh Wakil Kepala BPIP. Selain itu ada pula jabatan deputi BPIP dan staf BPIP. Namun BPIP juga memiliki Dewan Pengarah yang diketuai oleh Megawati Soekarnoputri. Lalu sejumlah tokoh duduk sebagai Anggota Dewan Pengarah antara lain Try Sutrisno, Ahmad Syafii Maarif, Said Aqil Siradj, Ma'ruf Amin, Mahfud MD, Sudhamek, Andreas Anangguru Yewangoe dan Mayjen (Purn) Wisnu Bawa Tenaya.
Sementara Kepala Staf Presiden, Jenderal (Purn) TNI Moeldoko mengaku terkejut sekaligus agak menyayangkan Yudi mundur lantaran sosoknya dianggap sangat mampu dalam merumuskan hal-hal yang bisa dilakukan untuk membumikan Pancasila.
