Kuntilanak dan Jailangkung Gentayangan Saat Lebaran
- dok.ist
"Di zaman saya dulu, film horor di hari Lebaran tidak diperbolehkan. Saya enggak tahu, kalau kebijakannya sekarang diperbolehkan," kata produser film Indonesia, sekaligus pemilik rumah produksi Max Picture, Ody Mulya Hidayat kepada VoxPop, Senin 18 Juni 2018.
Keluarnya dua film horor sekaligus di momen Lebaran, menurutnya, kemungkinan karena banyaknya jumlahnya film Indonesia yang mengantre untuk dirilis tahun ini. Ditambahkan lagi, film horor semakin diminati penonton Indonesia, terbukti dari tingginya jumlah penonton untuk setiap film.
"Iya, menurut saya momen, enggak salah juga karena exhibitor mengejar omzet. Karena, hari raya identik dengan panen penonton," ujarnya.
Ody mengungkapkan, produser film memiliki target penonton. Namun, dia menyayangkan film Kuntilanak dan Jailangkung harus bersaing pada waktu bersamaan, padahal kedua film tersebut memiliki peluang sukses besar.
"Itulah Lebaran. Lima sampai enam film loh. Konsepnya cari aman,” ujar Ody, yang pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal Persatuan Perusahaan Film Indonesia.
Film horor urban lagend pun masih menjadi andalan para sutradara dan produser film nasional. Bahkan, film-film horor yang sukses di masa lalu kembali di-remake untuk meraup untung.
"Iya awal-awal saya bikin urban legend Tali Pocong Perawan, Paku Kuntilanak, Air Terjun Pengantin. Ya, mungkin generasinya beda, generasi saat itu beda yang sekarang belum nonton. Tinggal bagaimana kita mengemasnya di era sekarang. Masih punya potensi lah urban legend," kata Ody.
Ody pun mengingatkan kualitas film dan komersialisme film tetap harus dipertahankan, agar bisa menarik perhatian penonton nasional.
"Kualitas tetap harus dijaga, tetapi nilai komersil harus dipertahankan, agar kita bisa bertahan. Kembali lagi kepada penonton yang menilai, jadi kita hanya tinggal pintar meramu bagaimana berkualitas disukai penonton," ucapnya. (asp)
