Si Doel The Movie: Untung Ada Mandra
- instagram.com/falconpictures_
Ulasan
![]()
Yang menyenangkan, Si Doel the Movie masih mempertahankan originalitas akting para pemainnya yang membuat penonton tetap dekat dengan para tokoh dan cerita di dalamya. Cara film ini bertutur kisah pun masih sama dengan sinetronnya. Sederhana, tanpa shot dan efek suara yang mendramatisir, atau dialog yang kelewat romantis hingga terkesan membual dan tak realistis. Karakter-karakternya pun tak diubah, hanya menyesuaikan dengan usia saja yang kini menua.
Doel sendiri misalnya. Dia masih sebagai sosok pria Betawi yang irit bicara dan cukup mengungkapkan emosinya lewat ekspresi wajah saja. Dia juga masih Doel yang agamis dan yang tak tahu bagaimana menyikapi cintanya yang dilematis. Begitu juga dengan para pemain lain. Mandra masih kental humor, Atun ceplas-ceplos polos, Zaenab yang lugu, dan Sarah yang elegan. Bahkan Mak Nyak (Aminah Cendrakasih), tak kehilangan ruhnya sedikit pun sebagai ibu Doel yang bijak, meski di tengah kondisi fisiknya yang lemah.
Sebagai sutradara, Rano Karno tampaknya masih sangat menjaga kekhasan Si Doel tersebut, termasuk pada set dan properti yang dipakai, seperti rumah dan oplet kesayangan. Dalam semua hal ini, Si Doel the Movie berhasil membangkitkan lagi nyawa sinetron Si Doel yang selalu dirindu.
Namun jika bicara soal cerita, sepertinya agak disayangkan. Film ini sebenarnya punya ide dasar yang menarik, cinta segitiga yang masih saja belum usai meski sudah 26 tahun lamanya. Apalagi, kisah cinta Doel, Sarah, dan Zaenab jadi kekuatan utama pada versi sinetronnya. Ditambah haus rasa penasaran, penonton punya alasan yang cukup untuk menonton film ini di bioskop. Tapi rasanya, eksekusinya masih kurang memuaskan, sebab ujung-ujungnya, film ini masih menggantung, seperti sinetron lamanya.
Terlalu banyak momen Doel hening tanpa dialog sehingga bikin penonton gemas. Masih banyak juga pertanyaan utama yang belum terjawab, meski Rano sendiri mengakui, film ini masih punya lanjutannya. Kemunculan Doel junior pun rasanya agak disia-siakan, karena jika saja adegan bapak-anak itu dibuat lebih dalam, efek harunya akan terasa lebih kuat. Misalnya, seperti memberi ruang sendiri untuk Doel dan anaknya, berdialog membangun chemistry.
