Hari Ke(tidak)bebasan Pers Sedunia

Ilustrasi/Aksi Damai memperingati hari kebebasan pers
Sumber :
  • VoxPopnews/Nurcholis Anhari Lubis

Delapan jurnalis yang tewas karena pemberitaan tersebut adalah Muhammad Fuad Syahfrudin alias Udin (jurnalis Harian bernas Yogyakarta tewas tahun 1996), Naimullah (jurnalis Harian Sinar Pagi, Kalimantan Barat tewas 25 Juli 1997), Agus Mulyawan (jurnalis Asia Press tewas di Timor-Timur, 25 September 1999), Muhammad Jamaludin (jurnalis TVRI di Aceh, tewas 17 Juni 2003), Ersa Siregara (jurnalis RCTI tewas 29 Desember 2003), Herliyanto (jurnalis tabloid Delta Pos, tewas 29 April 2006), Adriansyah Matra’is Wibisono (jurnalis TV lokal Merauke, tewas 29 Juli 2010), dan Alfred Mirulewan (jurnalis tabloid Pelangi, Maluku, ditemukan tewas 18 Desember 2010).

img_title Jurnalis Tempo Diretas, Negara Harus Hadir dan Tangkap Pelaku

Kepolisian juga mendapat sorotan sepanjang tahun 2015-2016 karena gagal melindungi hak warga negara dalam menyampaikan pendapat atau ekspresi. Sejumlah kasus pembubaran diskusi, pemutaran film, dan penyampaian eskpresi lainnya oleh kelompok intoleran terkesan ada pembiaran.

“Polisi seharusnya melindungi hak warga negara yang mempunyai pendapat berbeda atau keyakinan dengan kelompok lain. Bukan dibiarkan,” kata Iman.

img_title Apakah Charlie Hebdo Wujud Kebebasan Pers Prancis?

Hari Kebebasan Pers

Hari Kebebasan Pers Sedunia diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 3 Mei. 3 Mei menjadi kesempatan untuk mempromosikan prinsip-prinsip dasar kebebasan pers dan untuk memberikan penghormatan kepada para wartawan yang gugur dalam tugas.

img_title Jokowi Santai Soal Sampul Majalah Tempo, Beda dengan Pendukungnya

Terungkap dalam sebuah seminar di Jakarta, kondisi buruknya kebebasan pers tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di negara-negara ASEAN.  Masyarakat Asia Tenggara masih belum terakses informasi secara luas, dan kebebasan pers masih dibatasi oleh berbagai hal. Menurut Perwakilan Komnasham Thailand, Angkhana Neelapaijit, negaranya masih perlu memperoleh informasi dan pembelajaran dari negara sekitarnya dalam hal kebebasan berekspresi.

"Banyak tantangan yang terjadi saat ini di Thailand. Saya sangat berharap Thailand menerima banyak rekomendasi dari masyarakat internasional. Tidak hanya kebebasan berinstitusi tetapi juga membantu kami mempertahankan independensi informasi dan jurnalis bagi lembaga dan seluruh lapisan masyarakat," ujar Neelapaijit, dalam seminar Forum World Press Freedom Day di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa, 3 Mei 2016.

Menurutnya, turbulensi dan perubahan yang terjadi di seluruh dunia, termasuk tantangan-tantangan baru membutuhkan kerja sama dan aksi global. Kebutuhan akan informasi yang berkualitas sangat penting bagi lingkungan masyarakat. Kebebasan pers dan sistem yang berfungsi dengan baik dapat menjamin keutuhan dan keabsahan informasi yang menjadi hak setiap masyarakat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut