Soeharto dan 'Jalan Darah' Pahlawan Nasional
- Istimewa
Jalan darah
Alur sejarah Indonesia memang berkelok-kelok. Kekuatan orde baru selama 32 tahun telah menimbun dalam beragam fakta di balik kisah masa lalu pemerintahan di Indonesia.
Nama dan , menjadi figur paling disorot oleh publik. Soekarno dengan kisah kelengserannya dan Soeharto dengan kabar pemberontakan dan lamanya berkuasa di Indonesia.
Tahun 1966, tepatnya pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Dalam sebuah dokumentasi video, Presiden pernah mengeluarkan pernyataan kontroversial.
Tak dirinci jelas siapa yang dimaksud . Namun pidato itu menjelaskan posisi yang seolah-olah memang ada pengkhianatan di pemerintahan. "Jangan jegal perintah saya. Jangan saya dikentuti," kata Soekarno kala itu.
Pidato saat itu, bertepatan dengan usainya sejumlah pemberontakan seperti pembunuhan para petinggi TNI dan disebut-sebut dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia. Di mana konon katanya, proklamator kemerdekaan RI itu telah menerbitkan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret).
Yang kabarnya, surat itulah yang kemudian menjadi alasan pembersihan PKI dan penyerahan kekuasaaan Soekarno ke . " sangat pandai bermain di belakang layar," kata Sukmawati, putri dari memberikan kesaksiannya.
Ya, apa pun itu. Konteks resmi sejarah Indonesia memang hingga kini masih abu-abu. Banyak pihak kini menyangsikan bagaimana sejarah yang sesungguhnya. Hanya saja memang faktanya, sejak menerima tampuk kekuasaan, ada jalan darah yang telah dilaluinya.
Entah itu, saat pembersihan PKI oleh militer atau pun pembungkaman berbagai suara berbeda yang menyuarakan soal sejarah atau yang memang tak pernah sejalan dengan pemerintahnya.
Perlukah gelar itu?
Baru-baru ini, dalam Musyawarah Nasional luar Biasa Partai Golkar pada pertengahan Mei 2016, ajuan untuk dijadikan pahlawan nasional kembali mencuat.
Sebabnya, ini menjadi keputusan bersama Munaslub Golkar, bahwa memang layak diusung menjadi pahlawan nasional. "Partai Golkar pernah mengusulkan jadi pahlawan nasional. Belum berhasil. Kali ini, Munas mengusulkan kembali ke DPP agar menjadi Pahlawan Nasional," kata Aburizal Bakrie, mantan ketua umum Partai Golkar.
Keinginan Golkar ini memang tak lebih sebagai bentuk apresiasi atas kepiawaian membangun Indonesia. Terlepas kontroversialnya sosok , namun ini telah menjadi salah satu misi Golkar untuk mewujudkannya.
