Libur 1 Juni, Hari Lahir Pancasila
- ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
“Pidato Lahirnya Pancasila. Tepatnya tanggal 1 Juni 1945. Pidato yang berisi philosopische grondslag, fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung yang bernama Indonesia Merdeka,” ujar Mega.
“Bung Karno menyatakan bukan dirinya yang menemukan Pancasila. Beliau mengakui hanya sebagai penggali Pancasila. Namun, tak dapat dipungkiri, konsepsi tentang Pancasila adalah hasil pergulatan Bung Karno sejak muda,” ujar Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu.
Mega menuturkan, konsepsi tentang Pancasila itu merupakan buah perenungan atas perjuangan berpuluh-puluh tahun, termasuk hasil kontemplasi beliau saat dalam pembuangan di Ende. Karena itu, saat DR. Radjiman Wedyodiningrat—Pemimpin sidang BPUPKI—mengajukan pertanyaan tentang dasar negara, Bung Karno mampu menjawabnya pertanyaan tersebut dalam pidato tanpa teks, sistematis dan jernih.
“Dasar negara itu, Bung Karno sebut Pancasila,” kata Presiden kelima RI tersebut.
Menurutnya, dengan Pancasila, Bung Karno telah menggagas persatuan bangsa-bangsa di kawasan Asia Afrika, yang kemudian melahirkan Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Bung Karno juga memperjuangkan Pancasila menjadi “ideologi dunia”, dengan menyampaikannya secara resmi dalam Sidang Umum PBB tahun 1960.
”Gagagan visioner tersebut pada akhirnya melahirkan politik internasional berbasis persaudaraan bangsa-bangsa. 25 negara bersatu dan mendeklarasikan “Gerakan Non Blok” dalam KTT Non-Blok I pada tahun 1961,” katanya.
Nilai Penting
Mega meyakini, tanpa Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, tidak akan ada Pancasila. Tanpa Pancasila, tidak akan ada yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya telah terbukti Pancasila bukan hanya ideologi pemersatu bangsa Indonesia, bahkan sejarah mencatat betapa Pancasila telah menjadi ideologi alternatif dalam menghadapi konflik dunia.
Atas nama keluarga besar Bung Karno, Mega menyampaikan terima kasih terhadap Pemerintah yang telah menetapkan hari bersejarah tersebut. Menurutnya, pengakuan ini merupakan momen bersejarah sebagai upaya untuk membangkitkan keinsyafan dan kesadaran nasional. Itu dia nilai sangat berarti di era globalisasi dan pasar bebas, di mana liberalisme dan kapitalisme telah merasuk kedalam seluruh aspek kehidupan.
“Semoga spirit yang sama saat Pidato Lahirnya Pancasila dibacakan 1 Juni 1945 oleh Bung Karno, tidak hanya menjadi memori kolektif bangsa. Semoga jiwa, semangat, keberanian dan tekad yang sama hidup kembali melingkupi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
