Inggris Hengkang, Uni Eropa Berguncang
- uk.reuters.com
Sedangkan Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Pascal Lamy mengatakan, keluarnya Inggris dari Uni Eropa adalah hari yang buruk bagi mimpi Uni Eropa.
Keberhasilan Inggris dengan referendumnya, ternyata menarik minat politisi sayap kanan dari Belanda dan Prancis. Pemimpin Front Nasional Prancis, Marine Le Pen, melalui Twitternya menulis kemenangan Brexit sebagai "Victory for Freedom.” Menurutnya, saat ini, Prancis juga sudah waktunya mengambil hak untuk memutuskan.
"Kemenangan untuk kebebasan. Seperti yang telah saya sampaikan selama bertahun-tahun, saat ini kita harus mendapatkan kesempatan referendum yang sama untuk Prancis, dan negara Eropa lainnya," tulis Le Pen, seperti dikutip dari BBC, Jumat.
Politisi anti-imigrasi Belanda, Geert Wilders mengatakan, sekarang Netherlands juga memiliki kesempatan untuk memutuskan "Nexit." Menurutnya, Belanda harus memiliki kesempatan untuk bertanggungjawab penuh pada negaranya, untuk memutuskan keuangan, perbatasan, dan kebijakan imigrasi. "Secepat mungkin, Belanda harus mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pendapat mereka soal keanggotaan di Uni Eropa," ujarnya.
Berikutnya, tuntutan reformasi di Uni Eropa...
Tuntutan reformasi di Uni Eropa
Keguncangan di Uni Eropa, bukan hanya soal keinginan untuk melakukan referendum, namun hengkangnya Inggris juga dilihat sebagai sebuah "wake up-call", agar Uni Eropa melakukan reformasi dan bersedia mendengarkan anggotanya.
Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, meminta Uni Eropa untuk memahami anggotanya. "Ketidakpuasan yang Anda lihat di Inggris, juga hadir di negara-negara lain, termasuk saya sendiri," ujarnya.
"Ini harus menjadi stimulus untuk melakukan lebih banyak lagi reformasi dan memberi kesejahteraan yang lebih," kata Rutte menambahkan.
Perdana Menteri Chechnya Bohuslav Sobotka, meminta Uni Eropa untuk secepatnya berubah. "Uni Eropa harus berubah secepatnya. Bukan karena Inggris keluar dari Uni Eropa, namun proyek Uni Eropa membutuhkan dukungan yang kuat dari warganya. Eropa harus siap bertindak, lebih lentur, mengurangi birokasi, dan lebih sensitif pada perbedaan dari 27 anggotanya," ujar Sobotka.
Menteri Luar Negeri Italia Paolo Gentiloni juga mengakui, keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa adalah sebuah panggilan peringatan. "Pada tingkat politik, ini adalah saat dimana kita tak bisa hanya berdiam diri. Keputusan rakyat Inggris adalah sebuah panggilan peringatan bagi Uni Eropa," ujarnya seperti dikutip dari Reuters, 24 Juni 2016.
